Tuesday, October 06, 2009

Hidup dan Mati Dua Kali

Firman Allah swt :

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ

Artinya : “Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka Adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" (QS. Al Mu’min : 11)

Seperti dalam firman-Nya yang lain :

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ


Artinya : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS. Al Baqoroh : 28)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ artinya bahwa kamu tadinya tidak ada lalu Allah swt menjadikan kamu ada, sebagaimana firman-Nya ;

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ﴿٣٥﴾
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿٣٦﴾


Artinya : “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (QS. Ath Thuur : 35 – 36)


Artinya : :Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insan : 1)

Sufyan Ats Tsauriy dari Abu Ishaq dari Abu al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud, tentang firman-Nya :

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ


Artinya : “Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka Adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" (QS. Al Mu’min : 11)
Berkata bahwa ayat ini seperti yang ada didalam surat Al Baqoroh :


Artinya : “... Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali.” (QS. Al Baqoroh : 28)

Ibnu Juraih mengatakan dari ‘Atho dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ adalah engkau dahulu mati di sulbi bapak-bapak kalian dan belumlah menjadi sesuatu sehingga Allah menciptakan kalian lalu Allah swt mematikan kalian dengan kematian yang sebenarnya lalu Allah swt menghidupkan kalian saat dibangkitkan. Kemudian Ibnu Abbas berkata,”Ayat ini adalah seperti firman-Nya :

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ

Artinya : “Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka Adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" (QS. Al Mu’min : 11)

Adh Dhahak berkata dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya : رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ , dia (Ibnu Abbas) berkata,”Kalian hanyalah tanah sebelum Allah swt menciptakan kalian, ini adalah kematian lalu Allah swt menghidupkan dan menciptakan kalian maka ini adalah kehidupan lalu Allah swt mematikan kalian maka kalian kembali ke kuburan maka ini adalah kematian yang lainnya lalu Allah swt membangkitkan kalian pada hari kiamat maka inilah kehidupan yang lain. Sehingga kematiannya dua kali dan kehidupannya dua kali, dan ini seperti firman-Nya

Artinya : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS. Al Baqoroh : 28) – (Tafsir Al Qur’an Al Azhim juz I hal 212)

Monday, October 05, 2009

Masjid-Masjid Jerman Bukakan Pintu untuk Pengunjung Non-Muslim

Warga Muslim Jerman--yang kebanyakan keturunan Turki--kembali membukakan masjid-masjid yang dikelola oleh mereka untuk diziarahi oleh para pengunjung non-Muslim. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk lebih mengenalkan Islam secara lebih luas ke publik Jerman dan Eropa.

Kegiatan dibukanya masjid-masjid Jerman secara umum ini telah dimulai sejak 1997 silam, tepatnya pada tanggal 3 Oktober, yang juga hari bersatunya Jerman (antara blok Barat dan Timur).

Kegiatan tersebut merupakan inisiatif dan instruksi langsung dari Majlis Tinggi umat Muslim Jerman. Majlis sengaja menetapkan tanggal 3 Oktober untuk membuka masjid-masjid tersebut sebagai bentuk apresiasi Islam terhadap dialog antar-peradaban, budaya, dan antar-umat agama.

Para pengunjung yang memasuki masjid-masjid itu bukan sekedar akan dapat menikmati keindahan arsitektur Islam, kedamaian rumah ibadah Allah, tetapi juga suguhan-suguhan keislaman lainnya, utamanya tentang kebudayaan, peradaban, dan keagamaan.

Diperkirakan, lebih dari 50 ribu pengunjung non-Muslim mengunjungi masjid-masjid tersebut, serta mendapatkan pengetahuan yang lebih tentang Islam dan peradabannya.

Di Jerman, Islam menjadi agama terbesar kedua. Kebanyakan umat Muslim di Jerman merupakan keturunan ras Turki, yang pada masa perang dunia I merupakan sekutu utama Jerman. Saat ini, terdapat lebih dari 2500 masjid yang berdiri di seantero Jerman. (L2/mi)

Muhammad Nama Yang Paling Populer di Beland

Mohammed atau variasi dari nama Nabi Muhammad telah menjadi pilihan yang paling populer untuk nama bayi laki-laki di empat kota besar Belanda.

Badan keamanan sosial negeri tersebut menemukan bahwa nama-nama tradisional Belanda telah berganti di Amsterdam, Rotterdam, Den Hag dan Utrech sebagai wilayah tempat tumbuh dan berkembangnya umat Islam.

Di Den Hag, variasi dari nama nabi Muhammad telah menjadi urutan pertama, kedua dan kelima pada nama-nama yang terpopuler pada anak laki-laki, menggantikan nama-nama tradisional favorit seperti Jan, Luuk, Gijs atau Daan. Pada tingkat nasional, nama Muhammad saat ini menduduki urutan ke 16 untuk nama anak laki-laki terpopuler.

Angka-angka yang diperoleh oleh Bank Asuransi Sosial Belanda, berbeda dari statistik resmi, yang pada masa lalu dihitung dari berbagai ejaan seperti Mohammed, Muhamed atau Muhammad - sebagai nama-nama yang berbeda.

Hitungan pemerintah sebelumnya, memisahkan perbedaan variasi nama, menghindari kontroversi nama Nabi Muhammad masuk dalam 20 besar nama yang paling banyak dipakai untuk anak laki-laki.

Geert Wilders pimpinan sayap kanan partai kebebasan yang anti Islam, meminta pemerintah menginvestigasi setelah adanya laporan akhir pekan lalu yang menyebut lebih dari seperlima Uni Eropa diramalkan umat Islam akan menjadi mayoritas pada tahun 2050.

Statistik resmi menunjukkan masyarakat Eropa sedang mengalami peningkatan imigrasi dan tren pertumbuhan yang tinggi dari umat Islam. Pada tahun 2008 hanya 5 persen dari total penduduk Uni Eropa adalah Muslim. Namun rendahnya tingkat kelahiran penduduk Eropa mengakibatkan meningkatnya pertumbuhan umat Islam yang merupakan penduduk imigrasi dari negara-negara Muslim.

Penelitian baru-baru ini telah menunjukkan bahwa ketakutan atas radikalisasi anak muda Islam semakin besar.

Muhammad juga merupakan nama paling populer di dunia. Hal ini dengan cepat menjadi nama yang populer di AS dan Inggris. Dilaporkan nama Muhammad menjadi nama anak bayi laki-laki kedua terpopuler di Inggris. Secara keseluruhan nama Muhammad adalah nama keluarga yang paling umum di antara nama yang sering dipakai di keluarga Muslim di seluruh dunia.(fq/theage)

Friday, October 02, 2009

Kanser daripada sotong kering - Mengandungi logam toksik sama seperti bateri, plastik dan baja fosfat

Oleh NIZHA PERIASWAMY

nizha.periaswamy@kosmo.com.my

Email : Nik Noor Azman Ghazali

PEGAWAI penyelidik CAP, Hatijah Hashim menunjukkan sotong kering yang didakwa dicemari kadmium di pejabatnya di Pulau Pinang semalam.



GEORGE TOWN - Ramai mengetahui keenakan sotong kering ditambah lagi jika dimasak sebagai sambal.

Namun Persatuan Pengguna Pulau Pinang (CAP) mendedahkan, tidak mungkin ramai pengguna sedar bahawa sotong kering kaya dengan logam toksik jenis kadmium, bahan yang sama digunakan dalam membuat bateri, plastik dan baja fosfat.

"Kesan pengambilan kadmium mendedahkan seseorang terhadap kanser payu dara, kanser prostat serta penyakit buah pinggang,'' kata Presidennya, S. M. Mohamed Idris pada sidang media di pejabatnya di sini semalam.

Menurutnya, selain sotong kering, makanan laut kering lain seperti tiram, ikan bilis dan udang juga mengandungi kadmium tetapi pada kadar yang lebih rendah.

"Hasil ujian yang dilakukan mendapati kandungan kadmium dalam sotong kering melebihi empat kali ganda had yang dibenarkan,'' ujarnya.

CAP membuktikan perkara itu melalui ujian rawak melibatkan enam sampel sotong kering dan hasilnya mendapati lima sampel mengandungi kadmium serta tiga daripadanya mempunyai kandungan logam itu secara berlebihan.

Thursday, October 01, 2009

Deposit Tabung Haji cecah RM23 bilion

KUALA LUMPUR: Jumlah deposit Lembaga Tabung Haji (TH) kini mencecah RM23 bilion, kata Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak.

Jumlah itu jauh lebih tinggi daripada dana RM152,000 sumbangan kerajaan pada peringkat penubuhannya pada 1963.

"Tabung Haji berazam menjadikan 50 peratus umat Islam di Malaysia sebagai pendepositnya. Saya yakin rancangan ini akan dapat direalisasikan oleh Tabung Haji dalam jangka masa yang singkat," kata beliau semasa melancarkan logo baru TH di sini hari ini.

Sehingga hujung Julai 2009, TH mempunyai 5.09 juta pendeposit Tabung Haji juga bermula dengan mengendalikan hanya 5,000 jemaah haji pada 1963, dan kini mengelolakan sekitar 26,000 jemaah haji setiap tahun, kata Perdana Menteri.

Beliau berkata syarikat-syarikat pelaburan berkaitan kerajaan (GLC) perlu sentiasa memantapkan strategi-strategi perniagaanya bagi menghadapi perubahanperubahan dunia perniagaan global.

"Hari ini, kita gembira kerana Tabung Haji melancarkan logo barunya yang akan menampilkan bahawasanya institusi ini lebih dinamik dan sentiasa bersedia menghadapi cabarancabaran perniagaan pada masa akan datang," kata beliau. BERNAMA

mStarOnline/-

Monday, September 28, 2009

Kisah Dan Hukum Pada Musim Raya

Oleh: Dr. Mohd Asri Zainul Abidin

Sepanjang Ramadhan sehingga kini Syawwal, berbagai soalan dihantar kepada saya berkaitan dengan hukam-hakam itu dan ini. Saya sering katakan, pada asasnya Islam begitu luas dalam soal kehidupan umum atau muamalat, tetapi ketat dalam soal ibadah.

Ertinya, dalam soal kehidupan Islam membuka pintu keharusan, atau keizinan seluas-luasnya sehinggalah adanya dalil dari al-Quran atau Sunnah yang melarangnya. Jika dikaitkan dengan hariraya, maka soalan berhubung dengan hukum menghantar kad raya, atau email raya, membuat ketupat dan rendang, dodol dan lemang, atau kena pakai baju melayu atau jubah dan seumpamanya adakah bid’ah atau dibolehkan?

Sudah pasti itu semua termasuk dalam urusan umum kehidupan yang mana kreativiti manusia untuk hidup dan bergembira diberikan ‘lesen’ yang besar oleh Islam selagi tidak melanggar prinsip-prinsipnya seperti membazir, sombong, menyerupai agama lain secara khusus, memudaratkan diri sendiri atau orang lain, menyakiti fizikal atau mental orang secara langsung dan lain-lain prinsip.

Adapun mengenai ibadah khusus, maka Islam begitu ketat melarang sebarang perkara yang ditokok tambah dalam agama yang akhirnya menghilangkan keaslian agama yang asal. Ia juga mencabar Allah Yang Maha Berhak dalam menentukan syariatNya, juga mencabar Rasulullah s.a.w yang merupakan wakil sah yang tiada lagi rasul selepas baginda dengan cara menambah agama yang telah disampaikan.

Maka, jika dikaitkan dengan hariraya; takbir idil fitri adalah ibadah khas yang tamat selepas solat raya. Maka tidak boleh lagi takbir khas sempena hariraya fitri selepas itu. Demikian solat hariraya, hanyalah pada 1 syawwal, maka tiada lagi solat pada hari kedua, atau ketiga, atau selepas puasa enam. Ini kerana perkara-perkara seperti ini wajib diambil langsung daripada Rasulullah s.a.w dan kita tiada hak membuat edisi tambahan ke atas agama yang telah sempurna ini. Sekalipun tambahan itu nampaknya baik pada zahirnya, namun memberikan kesan yang buruk kepada agama ini di sudut ketulenannya. Apa akan jadi jika semua pihak menambah produk masing-masing ke atas Islam?!

Lihat apa yang berlaku kepada Yahudi dan Kristian, pengikut mereka sudah tidak tahu lagi apakah upacara asal yang dilakukan oleh Nabi Musa a.s. dan Isa a.s. Berbagai-bagai upacara baru dalam gereja mereka. Kemenyan yang diasapkan, loceng yang dibunyikan, muzik yang didendangkan dan berbagai lagi upacara yang akhirnya tidak lagi dapat dibezakan antara arahan wahyu dan tokok tambah pendeta.

Allah menyebut dalam al-Quran: (maksudnya)

“pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agama untuk kamu”. (Surah al-Maidah, ayat 3).

Kata al-Imam Malik bin Anas (179H):

“Sesiapa yang mengadakan-adakan perkara baru dalam Islam dan menganggapnya baik maka dia telah mendakwa Muhammad s.a.w. mengkhianati risalah. Ini kerana Allah telah berfirman: (maksudnya) “Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu”. Apa yang pada hari tersebut tidak menjadi agama, maka dia tidak menjadi agama pada hari ini”. (Al-Syatibi, Al-I’tisam, m.s 35 Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi).

Main Mercun


- Gambar Hiasan

Ada yang bertanya saya tentang hukum main mercun. Sebenarnya main mercun pada hariraya bukan sahaja di Malaysia, di negara-negara Arab pun sama. Saya kata bahawa di sana ada beberapa perkara yang mesti dijelaskan.

Pertama sekali, tidak boleh sesiapa pun beriktikad bahawa Islam menggalakkan main mercun pada musim raya. Jika kepercayaan ini ada, ia termasuk dalam bid’ah kerana menokok tambah ajaran Islam dengan satu upacara yang dianggap ibadah. Walaupun kepercayaan seperti di tempat kita tiada, namun mesti diperingatkan prinsip ini, kerana perubahan masa dan tempat boleh menyebabkan perubahan kepercayaan dan ibadat.

Kedua, permainan secara umumnya termasuk dalam urusan am kehidupan. Selagi ia tidak memberi mudarat pada diri atau orang lain, maka ia dibolehkan. Mercun yang membawa kepada kecederaan diri atau orang lain adalah haram. Haram itu bertambah apabila adanya arahan pemerintah yang melarang rakyat dari perbuatan tersebut. Ketaatan kepada Ulul Amri dalam perkara yang baik adalah wajib.

Lebih buruk lagi apabila ada yang bermain mercun sehingga mengganggu ketenteraman awam, jamaah yang bersolat di masjid, bayi yang sedang tidur dan seumpamanya. Di negeri-negeri yang bersempadan dengan Thailand seperti Kedah, malam mereka dentuman bagaikan peperangan sedang tercetus.

Nabi s.a.w menyebut dalam hadis:

“Tidak halal bagi seorang muslim membuat muslim lain terkejut”. (Riwayat Abu Daud dan Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani).

Namun jika bunga api atau mercun yang tidak merbahaya dan diizinkan oleh undang-undang, maka tidak menjadi kesalahan untuk bermain sebagai satu aktiviti kegembiraan dalam batasan yang diizinkan.

Kisah Malam Raya


Ada isteri bersungut suaminya tiada di rumah pada malam raya. Bahkan suami membantah isterinya yang sibuk menghias rumah dan menyiapkan juadah kerana katanya bahawa disunatkan pada malam Hariraya menunaikan solat Sunat Jibril sebanyak seratus rakaat, dibaca dalam setiap rakaat al-Fatihah dan sebelas kali Surah al-Ikhlas serta beberapa kaifiyyat yang lain. Kononnya fadhilatnya begitu hebat. Saya jawab aduan itu dengan berkata bahawa menghias rumah dan menyediakan makanan untuk hariraya termasuk dalam perkara yang diharuskan, itu adalah urusan umum kehidupan.

Adapun solat berkenaan, seperti kata al-Hafiz Ibn Jauzi (meninggal 597H) dalam karyanya al-Mudu’at : “Tiada syak lagi ia hadis palsu”. Bahkan hadis-hadis tentang menghidupkan malam hariraya berada dalam sekitar status ‘teramat dhaif’ dan ‘palsu’. Bukan tidak boleh beribadah pada malam hariraya, sama seperti setiap malam, beribadah malam tetap disunatkan.

Namun fadilat khusus yang sahih tidak sabit periwayatannya daripada Nabi s.a.w. Maka tidak mengapalah jika suami atau seisi rumah bersiap pada malam hariraya untuk bergembira pada esoknya. Islam itu bak kata Nabi s.a.w:

“Agar Yahudi mengetahui bahawa dalam agama kita ada keluasan. Sesungguhnya aku diutuskan dengan agama yang lurus lagi mudah” (Riwayat Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani).

Puasa Enam


Dalam laman web saya Minda Tajdid (drmaza.com) saya telah menjawab keluhan seorang suami yang isterinya meminta dia berbuka puasa enamnya untuk meraikan anak-anak yang pulang jauh, agar dapat makan bersama. Oleh kerana dia bimbang nanti fadhilat puasa enam Syawwal itu hilang jika tidak puasa berturut selepas hariraya, maka dia enggan berbuka yang mungkin membawa kecil hati, atau ‘kurang meriah’ bagi anak-anak yang pulang dari jauh.

Kesimpulan dari jawapan saya dalam Minda Tajdid saya kata bahawa walaupun ada ulama yang menyebut tentang keafdhalan berturut-turut itu, namun sunat puasa enam hari pada Bulan Syawwal, bukanlah terhad setakat enam hari berturut-turut selepas hariraya, sebaliknya enam hari pada Bulan Syawwal samada berturut-turut atau berselang-seli dalam bulan tersebut dianggap sebagai memenuhi maksud hadis.

Apatah lagi di sana ada hadis Abu Sa’id al-Khudri katanya:

“Aku telah menyediakan makanan untuk Rasulullah s.a.w. Maka baginda dan sahabat-sahabatnya pun datang ke tempatku. Apabila makanan dihidangkan, seorang lelaki dalam kalangan mereka berkata: “Aku berpuasa”. Rasulullah s.a.w pun bersabda: “Saudara kamu telah menjemput kamu, dan bersusah payah untuk kamu”. Kemudian baginda berkata kepada lelaki itu: “Bukalah puasa, dan berpuasalah satu hari lain sebagai ganti –jika mahu” (Riwayat al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra, dinilai hasan oleh al-Hafiz Ibn Hajar dalam Fath al-Bari).

Dalam riwayat lain oleh al-Tabarani dalam al-Ausad baginda mengkritik lelaki tersebut dengan bersabda: “saudara kamu telah menjemput kamu, dan bersusah payah untuk kamu kemudian kamu berkata ‘aku berpuasa!!”.

Ini menggambarkan betapa menjaga hubungan baik itu patut diutamakan sementara puasa sunat pula boleh diganti pada hari yang lain. Puasa enam Syawwal pun demikian. Maka untuk menjaga hubungan kaum keluarga, maka eloklah ditangguhkan puasa tersebut jika hari-hari pada Bulan Syawwal masih banyak.

Pada zaman ini, cuti yang terhad, waktu pertemuan sesama keluarga juga terbatas oleh kesibukan dan urusan yang berbagai, maka amalkanlah galakan Nabi s.a.w ini ‘berbuka dan ganti pada hari yang lain jika mahu’. Dengan itu hubungan keluarga dapat dikuatkan atau dijaga, puasa enam juga dapat dilaksanakan.

Jika kita luaskan apa yang Islam luaskan, dan elakkan menokok tambah apa yang Islam tidak izinkan, maka kita akan melihat Islam itu begitu indah dan mudah.

Friday, September 25, 2009

Ayuh Kita Puasa Sunat Syawal

AYUH KITA PUASA SUNAT ENAM DI BULAN SYAWAL

Mula : 28 September 2009=9 Syawal 1430h (Isnin)
Sehingga
3 Oktober 2009 14 Syawal (Sabtu)

Persoalan Sunat Sebelum Qadha & Qadha campur Sunat

Disediakan oleh: Abu Anas Madani,
Pensyarah KIAS

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسوله الأمين، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ibadah puasa adalah suatu amalan mulia yang amat digalakkan oleh Islam. Selain puasa fardhu Ramadhan, umat Islam juga boleh melakukan ibadat puasa sunat di luar bulan Ramadhan. Ada puasa sunat yang bersifat mingguan (seperti berpuasa pada hari isnin dan khamis), puasa bulanan (tiga hari dalam sebulan) dan puasa tahunan (hari Arafah, ’Asyura’ dan enam hari dalam bulan Syawal).

Puasa adalah satu ibadah yang besar keutamaannya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda, Allah subhanahu wata’aala berfirman (dalam hadis Qudsi):

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ؛ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ... وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَالْقِيَامَةِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ - رواه مسلم.

Maksudnya: “Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu).” (Rasulullah menjelaskan): “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, nafas orang yang berpuasa adalah lebih harum di sisi Allah berbanding wangian kasturi.” [Sahih Muslim no: 1151] Selain hadis di atas, terdapat banyak hadis lain yang menerangkan keutamaan puasa sunat.

Abu Said Al-Khudri ra berkata: Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ بَعَّدَ اللهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا - رواه البخاري.

Maksudnya: “Sesiapa yang berpuasa satu hari pada jalan Allah, nescaya Allah swt menjauhkan mukanya dari api neraka selama 70 tahun”. [Sahih Al-Bukhari no: 2840]

Di antara puasa sunat ialah puasa enam hari pada bulan Syawal. Bersempena dengan bulan Syawal ini, artikel ini akan membincangkan tentang puasa sunat ini.

Dalil Puasa Sunat Enam Syawal.

Abu Ayyub Al-Ansari ra berkata: Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ- رواه مسلم.

Maksudnya: “Sesiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dia mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.” [Sahih Muslim hadis no: 1164].

Di dalam hadis ini Rasulullah saw menyatakan bahawa puasa enam hari selepas bulan Ramadhan akan diganjari pahala seolah-olah berpuasa selama setahun.

Para ulama’ menghuraikan rahsia di sebalik ganjaran tersebut dengan mendatangkan dalil bahawa setiap amalan kebaikan manusia akan diganjari sebanyak 10 kali ganda. Puasa 30 hari di bulan Ramadhan diganjari sebanyak 300 hari, manakala puasa 6 hari di bulan Syawal pula diganjari dengan 60 hari. Jika dikira jumlahnya ialah 360 hari, ia hampir menyamai jumlah hari di dalam setahun sebanyak 360 hari. Sesungguhnya Allah swt maha berkuasa untuk memberikan ganjaran sebanyak mana yang dikehendaki-Nya.

Hikmah Puasa Sunat Enam Syawal.

Sebenarnya puasa enam hari ini mempunyai beberapa hikmah yang tertentu dari sudut kesihatan manusia itu sendiri. Puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan antaranya menyebabkan sistem percernaan di dalam badan berehat seketika di waktu siang selama sebulan. Kedatangan bulan Syawal pula menyebabkan seolah-olah ia mengalami kejutan dengan diberikan tugas mencerna pelbagai makanan pada hari raya dan hari-hari selepasnya. Oleh kerana itulah, puasa enam ini memberikan ruang kembali kepada sistem pencernaan badan untuk berehat dan bertugas secara beransur-ansur untuk kebaikan jasmani manusia itu sendiri.

Selain dari itu, sebagai manusia yang menjadi hamba kepada Allah swt, alangkah baiknya seandainya amalan puasa yang diwajibkan ke atas kita di bulan Ramadhan ini kita teruskan juga di bulan Syawal walaupun sekadar enam hari. Ini seolah-olah menunjukkan bahawa kita tidak melakukan ibadat puasa semata-mata kerana ia menjadi satu kewajipan tetapi kerana rasa diri kita sebagai seorang hamba yang benar-benar bersunguh-sungguh untuk taqarrub kepada tuhannya. Kerana itulah kata ulama’: “Betapa malangnya orang yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan, sedangakan pada bulan lain Allah swt dilupai”.

Hukum Puasa Sunat Enam Syawal.

Hukumnya adalah sunat. Berkata Imam An-Nawawi rh: “Hadis ini jelas menjadi dalil bagi mazhab Imam al-Syafi’e, Imam Ahmad, Daud dan ulama’ yang sependapat dengan mereka bahawa disunatkan berpuasa enam hari (pada bulan Syawal).

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pula menganggap hukumnya makruh. Sebabnya kerana bimbang orang ramai akan menyangka ia adalah sebahagian dari puasa Ramadhan (yang wajib hukumnya) padahal ia bukanlah dari puasa Ramadhan.” [Syarah Sahih Muslim 8/56]

Bilakah Dimulakan Puasa Sunat Enam Syawal?

Puasa sunat enam Syawal paling awal dimulakan pada 2 Syawal. Ini kerana tarikh 1 Syawal adalah hari Eidil Fitri dan kita dilarang dari berpuasa pada hari tersebut. Abu Hurairah ra berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ (ص) نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الأَضْحَى، وَيَوْمِ الْفِطْرِ- رواه مسلم.

Maksudnya: “Nabi saw melarang puasa pada hari (Eidil) Fitri dan (Eidil) Adha.” [Sahih Al-Bukhari no: 1991].

Bagaimana Melaksanakan Puasa Sunat Enam Syawal?

Syarat dan adab bagi puasa sunat enam Syawal adalah sama seperti puasa wajib pada bulan Ramadhan.

Persoalan yang menjadi perbincangan di kalangan para ulama’ ialah:

1- Adakah ia dilaksanakan secara berturut-turut selama enam hari atau secara terputus?

Pandangan yang lebih tepat adalah ia boleh dilakukan secara terputus (tidak berturut-turut) asalkan jumlah enam hari dicukupkan sebelum berakhirnya bulan Syawal. Ini kerana apabila Rasulullah saw menganjurkan puasa sunat enam hari ini, baginda menyebut bulan Syawal secara umum tanpa memberi ketentuan hari-harinya. Maka puasa enam tersebut boleh dilaksanakan pada mana-mana hari dalam bulan Syawal asalkan bukan pada 1 Syawal dan bukan sesudah berakhir bulan Syawal.

Namun adalah lebih afdhal disegerakan pelaksanaan puasa enam Syawal berdasarkan umum firman Allah swt:

 وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Maksudnya: “Dan bersegeralah kamu kepada (mengerjakan amal-amal yang baik untuk mendapat) keampunan dari Tuhan kamu, dan (ke arah mendapatkan) Syurga yang bidangnya seluas segala langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Surah Aali Imran:133]

2- Melaksanakan Puasa Sunat Enam Syawal Sebelum Mengqadha Puasa Ramadhan.

Wujud perbincangan di kalangan para ulama’, apakah dibolehkan berpuasa sunat enam Syawal jika seseorang itu memiliki hutang puasa Ramadhan yang belum diqadhanya? Ada dua pendapat ulama’ dalam masalah ini.

Pendapat Pertama: Boleh melakukannya, berdasarkan dalil bahawa Aisyah radhiallahu 'anha pernah mengakhirkan hutang puasa Ramadhan yang perlu diqadhanya hingga ke bulan Sya’ban yang akan datang. Aisyah ra berkata:

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلا فِي شَعْبَانَ. قَالَ يَحْيَى: الشُّغْلُ مِنْ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ 

Maksudnya: “Aku memiliki hutang puasa bulan Ramadhan. Aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” Kerana sibuk (melayani) Rasulullah saw. [Sahih Muslim no: 1146. Sahih al-Bukhari, hadis no: 1950, penjelasan “kerana sibuk melayani Rasulullah saw” ialah penjelasan salah seorang perawi hadis yang bernama Yahya bin Sa‘id.]

Para ulama’ yang mengemukakan pendapat pertama berhujah, sudah tentu tidak mungkin isteri Rasulullah saw, yakni Aisyah ra, tidak melaksanakan puasa sunat enam Syawal. Pasti beliau melaksanakannya dan tindakan beliau yang mengqadha puasa Ramadhan pada bulan Sya’ban menunjukkan dibolehkan berpuasa sunat enam Syawal sekali pun seseorang itu memiliki hutang puasa Ramadhan.

Pendapat Kedua: Tidak boleh melakukannya, berdasarkan hadis yang menganjurkan puasa sunat enam Syawal itu sendiri yang telah dikemukakan di awal risalah ini. Hadis tersebut berbunyi: “Sesiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dia mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.”

Rasulullah saw mensyaratkan “berpuasa Ramadhan” terlebih dahulu, kemudian barulah “mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal”. Ini menunjukkan puasa sunat enam Syawal hanya dilaksanakan sesudah seseorang itu menggenapkan puasa Ramadhannya. Jika ada puasa Ramadhan ditinggalkan, ia perlu diqadha terlebih dahulu. Kemudian barulah diiringi dengan puasa sunat enam Syawal.

Kalau diperhatikan secara teliti, pendapat yang kedua lebih rajih (kuat); Kerana ianya lebih menepati dalil puasa sunat enam Syawal itu sendiri. Selain dari itu, membayar hutang yang wajib hendaklah didahulukan dari memberi sedekah yang sunat. Ini disokong dengan ayat 133 surah Aali Imran yang dikemukakan sebelum ini, yang menganjurkan kita untuk menyegerakan amal kebajikan. Sudah tentu amal yang wajib lebih perlu disegerakan daripada amal yang sunat.

Namun, sekiranya seorang itu tidak berkesempatan (disebabkan keuzuran) untuk melakukan qadha kemudian berpuasa enam dan dia berkeyakinan akan sempat mengqadhakannya sebelum Ramadhan tahun berikutnya, maka pendapat yang pertama boleh diterima, berdasarkan apa yang dilakukan oleh Aisyah ra.

Menurut Imam An-Nawawi rh, Mazhab Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafie, Ahmad dan jumhur salaf dan khalaf mengatakan: “Qadha puasa Ramadhan bagi mereka yang berbuka kerana uzur seperti kedatangan haid dan musafir, maka kewajipan mengqadhanya adalah secara bertangguh (’ala at-tarakhi), tidak disyaratkan qadha terus apabila boleh melakukannya”. [Syarah Sahih Muslim 8/22].

قال النووي في شرح مسلم: وَمَذْهَب مَالِك وَأَبِي حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد وَجَمَاهِير السَّلَف وَالْخَلَف: أَنَّ قَضَاء رَمَضَان فِي حَقّ مَنْ أَفْطَرَ بِعُذْرٍ كَحَيْضٍ وَسَفَرٍ يَجِب عَلَى التَّرَاخِي، وَلا يُشْتَرَط الْمُبَادَرَةُ بِهِ فِي أَوَّل الإِمْكَان;

Menurut Al-Khatib Asy-Syarbini: “Sesiapa yang tertinggal puasa Ramadhan, sunat dia mengqadhakannya secara berturut-turut dan makruh bagi orang yang ada qadha Ramadhan melakukan puasa sunat”. [Mughni Al-Muhtaj 2/181 cet, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut].

3- Menggabungkan puasa qadha dan puasa enam.

Di antara persoalan yang sering timbul sekitar puasa enam ialah adakah harus menggabungkan di antara dua puasa iaitu puasa qadha dan puasa enam hari di bulan Syawal. Adakah diganjari dengan kedua-dua pahala tersebut dengan puasa yang satu?

Persoalan ini berlaku khilaf di kalangan ulama’, sebahagiannya yang berpendapat tidak boleh mencampurkan niat puasa sunat dengan puasa fardhu yang lain atau dengan puasa sunat yang lain, sekiranya dilakukan maka puasanya itu tidak sah, tidak bagi yang fardhu dan tidak bagi yang sunat.

Ada dikalangan ulama’ Syafi’iyyah berpendapat bahawa ganjaran puasa enam tetap akan diperolehi apabila seseorang berpuasa qadha sekalipun ia tidak berniat menggabungkan kedua-duanya, namun pahala yang diperolehi kurang daripada seorang yang berpuasa kedua-duanya secara berasingan. [Lihat: Hasyiah Asy-Syarqawi ‘Ala Tuhfah At-Tullab 1/428, cet, Darul Ma’rifah, Fatawa Al-Azhar 9/261 Al-Maktabah Asy-Syamilah]

Al-Khatib Asy-Syarbini berkata: “Jika seseorang berpuasa qadha atau puasa nazar atau puasa sunat yang lain di bulan Syawal, adakah dia mendapat pahala sunat (Syawal) atau tidak? Saya tidak mendapati pendapat ulama’ yang menyebut tentangnya, dan yang zahirnya adalah dapat pahala tersebut (pahala puasa yang diniatinya). Namun, dia tidak mendapat pahala sebagaimana yang disebut oleh hadis yang menerangkan tentang kelebihan puasa enam tadi, khasnya mereka yang tertinggal puasa Ramadhan kemudian berpuasa pada bulan Syawal. Ini kerana mereka tidak memenuhi maksud hadis tersebut (menyempurnakan puasa Ramadahan kemudian diikuti dengan puasa enam)”. [Mughni Al-Muhtaj 2/184 cet, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut]

Setelah dikaji, pandangan ulama’ yang membolehkan puasa dua dalam satu ini, tidak bersandarkan mana-mana dalil al-Qur’an dan al-Sunnah. Mereka juga mengatakan amalan ini hanya mendapat pahala kerana kebetulan berpuasa qadha dalam bulan Syawal, sama seperti pahala sunat tahiyyatul masjid dengan solat fardhu (orang yang terus melakukan solat fardhu apabila masuk ke dalam masjid akan mendapat juga pahala sunat tahiyyatul masjid). Wallahu a’lam.

Oleh itu, lakukanlah dua ibadat puasa ini (fardhu dan sunat) secara berasingan, kerana sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah SWT, memperbanyakkan amalan taqarrub dengan memisahkan di antara yang menjadi kewajipan dengan yang menjadi galakan (sunat) tentulah lebih menunjukkan kesungguhan diri sebagai seorang hamba yang mencari keredhaan Tuhannya. Ini juga lebih berhati-hati (ahwat) dalam ibadat, serta melakukan ibadat dengan yakin adalah lebih utama (aula), kerana ada pendapat ulama’ mengatakan tidak boleh mencampurkan niat puasa sunat dengan puasa fardhu yang lain atau dengan puasa sunat yang lain.

Sebagai kesimpulan, puasa sunat semata-mata kerana Allah (bukan kerana sakit atau ingin berdiet) mempunyai kelebihan yang besar di sisi Allah swt dan sangat digalakkan oleh Rasulullah saw.

Sebagaimana yang diketahui semua amalan sunat adalah sebagai penampal kepada mana-mana kekurangan dalam amalan fardhu. Puasa enam hari pada bulan Syawal ini pula thabit dari sunnah Rasulullah saw. Sepatutnyalah kita mengambil peluang ini untuk berpuasa enam hari pada bulan Syawal.

Sempurnakan dahulu qadha beberapa hari yang tertinggal, kerana kita tidak tahu apakah hayat dan kesihatan yang ada akan berterusan sehingga kita dapat menunaikannya di masa hadapan.

Bagi orang yang tidak sempat melakukan puasa sunat kerana sibuk dengan puasa wajib diharapkan Allah swt akan memberi ganjaran berdasarkan niat dan azamnya. Sebagaimana sabda Nabi saw:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا- رواه البخاري.

Maksudnya: “Apabila seorang hamba Allah sakit atau musafir (beliau tidak dapat melakukan amalan yang biasa dilakukannya) maka dituliskan baginya pahala seperti amalan yang biasa dilakukannya sewaktu tidak bermusafir dan sewaktu sihat” [Sahih Al-Bukhari no. 2834]

Semoga kita semua diberi taufiq dan hidayah oleh Allah swt ke jalan yang di redhai-Nya serta dapat melaksanakan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal ini dengan sempurna. Seterusnya kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang mendapat kejayaan dunia dan akhirat. Aamin.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما إلى يوم الدين.

Maklumat Penulis:

Abu Anas Madani,
Pondok Sungai Durian.
04 Syawal 1429h- 041008
Pensyarah KIAS
www.abuanasmadani.com

Wednesday, September 16, 2009

Menyambut Aidilfitri Mengikut Sunnah Rasulullah SAW





Assalamualaikum. wwb. Bersama sama ini dipaparkan sabuah artikel tentang bagaimana seharusnya kita menyambut aidulfirti mengikut tuntutan sunnah baginda Rasulullah saw. Mudah mudahan Allah akan memasukkan kita dalam golongan orang yang bertaqwa.

Oleh Mohd Yaakub bin Mohd Yunus

(Artikel ini diringkaskan dari buku MENYAMBUT RAMADAN & AIDILFITRI MENURUT SUNNAH RASULULLAH S.A.W. terbitan Karya Bestari)

Islam adalah satu-satunya agama yang diredhai oleh Allah serta agama paling sempurna. Firman Allah S.W.T:

“Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku telah redha Islam itu menjadi agamamu.” - Surah al-Maaidah: 3.

Kesempurnaan Islam itu terserlah apabila ia mampu menangani segala permasalahan manusia secara menyeluruh. Islam telah membicarakan isu-isu bersifat global seperti sistem ekonomi, sistem pemerintahan malah ia juga membicarakan sekecil-kecil perkaraseperti adab masuk ke tandas dan beristinjak. Oleh itu, tidak hairanlah sekiranya Islam juga telah memberikan garis panduan berkaitan tatacara menyambut hari-hari kebesarannya seperti hari raya Aidilfitri ini. Adalah penting bagi kita untuk sentiasa menjadikan al-Quran dan sunnah sebagai petunjuk dalam mengendalikan upacara sambutan Aidilfitri kerana inilah masa untuk kita semua membuktikan bahawa kita benar-benar telah menjadi seorang insan yang bertakwa setelah melalui bulan Ramadan kerana padanya terdapat ibadah puasa yang berupaya membentuk golongan muttaqin(orang yang bertakwa). Justeru itu, ada baiknya sekiranya kita mengetahui apakah amalan-amalan yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w sempena menyambutketibaan hari lebaran Aidilfitri ini.

• Bertakbir.

Bertakbir pada tarikh 1 Syawal bersempena Aidilfitri merupakan suatu amalan yang disyariatkan. Takbir pada hari Aidilfitri bermula ketika terlihatnya hilal (anak bulan) dan berakhir setelah selesainya kemuncak hari raya, iaitu ketika imam selesai berkhutbah. Firman Allah S.W.T:

“Supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), supaya kamu membesarkan Allah (dengan bertakbir) kerana telah memberi petunjuk-Nya kepada kamu dan supaya kamu bersyukur.” – Surah al-Baqarah:185.

Adalah juga disunnahkan untuk kita bertakbir disepanjang perjalanan dari rumah kita menuju ke masjid untu menunaikan solat Aidilfitri. Menurut Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani r.h:

“Mengenai syariat bertakbir (pada hari raya Aidilfitri) yang perlu dilakukan oleh kaum muslimin ialah bertakbir dengan suara lantang ketika dalam perjalanan menuju ke tempat solat walaupun kebanyakan umat Islam mula memandang remeh sunnah ini.” – RujukKitab Meneladani Rasulullah S.a.w Dalam Berhari Raya, karya Syeikh Ali Hassan bin Ali al-Halabi al-Atsari, ms. 32

Bertakbir sejak mula keluar dari rumah bertujuan menyerlahkan syiar Islam di setiap pelusuk jalan yang dilalui ketika menuju ke tempat solat.

• Lafaz ucapan selamat pada hari raya Aidilfitri.

Majoriti amalan umat Islam di Malaysia akan mengucapkan antara satu sama lain pada hari lebaran dengan ucapan ‘Selamat Hari Raya Aidil Fitri, Maaf Zahir dan Batin’. Namun, apa yang lebih bertepatan dengan amalan para salafussoleh dalam meneladani sunnah Nabi s.a.w adalah sebagaimana yang diceritakan oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-’Asqalani r.h yang dinukilkan daripada Jubair bin Nufair r.a katanya:

“Apabila para sahabat Rasulullah s.a.w bertemu di hari raya, sebahagian mereka mengucapkan kepada yang lain ‘taqabbalullah minna waminka’ (Semoga Allah menerimaamalan kami dan amalanmu).” – Rujuk Fath al-Bari, al-Hafiz Ibn Hajar al-’Asqalani, , jil. 5, ms. 270-271. Menurut beliau hadis ini berstatus hasan.

• Meneruskan qiamullail.

Jika sepanjang bulan Ramadan kita telah bersungguh-sungguh menghidupkan malam kita dengan pelbagai ibadah terutamanya solat qiyam Ramadan (solat tarawih), ia seharusnya diteruskan juga pada hari-hari berikutnya dengan mengerjakan solat tahajjud. Saranan ini tidak bermaksud mengkhususkan pada malam Aidilfitri untuk dikerjakan qiamullail. Apa yang cuba ditekankan di sini adalah semangat mengerjakan qiyam Ramadan (solat tarawih) haruslah diteruskan dengan mengerjakan qiamullail pada hari-hari berikutnyasesudah bulan Ramadan.

• Mandi pada pagi hari raya.

Disunnahkan mandi di pagi hari raya sebagaimana mandi wajib, iaitu sebelum berangkat menuju ke tempat perlaksanaan solat Aidilfitri. Ali bin Abi Thalib r.a pernah ditanya mengenai mandi. Adakah diharuskan mandi setiap hari? Beliau menjawab:

“Tidak harus melakukannya. Namun, mandi yang diharuskan ialah mandi pada hari Jumaat, hari Arafah, hari Aidiladha dan Aidilfitri.” - Hadis riwayat Imam Syafie di dalam Musnad al-Syafi’i, jil. 1, ms. 118-119.

• Makan sebelum solat Aidilfitri.

Disunnahkan kaum muslimin menjamah makanan sebelum berangkat menunaikan solat Aidilfitri. Perbuatan ini bertujuan menutup segala andaian bahawa dibenarkan berpuasa pada hari raya. Menurut al-Muhallab r.h:

“Mengenai hikmah menjamah makanan sebelum mengerjakan solat hari raya adalah agar seseorang tidak berpendapat bahawa dia boleh berpuasa sehingga solat hari raya Aidilfitri dilaksanakan. Seolah-olah Rasulullah s.a.w ingin menutup prasangka semacam ini.” - Rujuk Fath al-Bari, jil. 5, ms. 272.

Kebiasaannya, Rasulullah s.a.w akan memakan kurma dalam jumlah yang ganjil pada pagi hari raya. Namun, tidak bermakna umat Islam perlu menyediakan buah kurma untuk dimakan pada pagi hari raya Aidilfitri. Mereka bebas memakan apa sahaja. Tetapi, mengikut sunnah itu lebih baik daripada menyanggahinya. Sedangkan, sunnah itu termasuk perkara tauqifi (tidak boleh dipersoalkan). Anas bin Malik r.a berkata:

“Rasulullah s.a.w tidak akan pergi ke tempat solat pada pagi Aidilfitri sebelum memakan beberapa biji kurma.” Murajja’ bin Raja’ berkata: Ubaidillah menceritakan kepadaku bahawa Anas r.a berkata: Rasulullah s.a.w memakannya dalam jumlah yang ganjil.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahihnya, no: 953.

Namun, jika tidak memiliki kurma maka dibolehkan untuk mengisi perut dengan makanan lain terutamanya makanan yang manis-manis seperti madu. Sekiranya tidak ada makanan sama sekali, memadai dengan hanya meminum air.

• Memakai pakaian yang indah.

Disunnahkan kaum muslimin menghiaskan diri dengan pakaian yang indah-indah pada hari raya. Imam Syafier.h berkata:

“Aku lebih menyukai seseorang memakai pakaian terbaik yang dimilikinya pada hari-hari raya, iaitu pada hari Jumaat, dua hari raya (Aidiladha dan Aidilfitri) dan tempat diadakan majlis (seperti majlis perkahwinan). Dia hendaklah memakai baju yang bersih dan memakai wangi-wangian.” – Rujuk Ringkasan Kitab Al-Umm, Imam al-Syafi’I, jil. 1, ms. 327.

Bagi kaum wanita pula walaupun disunnahkan memakai pakaian yang terbaik, namun mereka hendaklah menghindari dari memakai pakaian yang bercorak-corak serta perhiasan yang berlebih-lebihan sehingga menarik perhatian golongan lelaki. Bagi golongan kanak-kanak pula, Imam Syafie r.h menambah:

“Mengenai golongan kanak-kanak pula, mereka boleh memakai pakaian paling bagus yang dimilikinya, baik lelaki mahupun perempuan dan mereka juga boleh memakaiperhiasan emas atau apa sahaja perhiasan.” – Rujuk Ringkasan Kitab al-Umm, Imam Syafie, jil. 1, ms. 327.

Semoga di pagi hari raya kita akan memilih pakaian yang terbaik serta paling mahal mengikut kemampuan masing-masing menuju ke tempat solat hari raya. Disunnahkan juga bagi kaum lelaki memakai wangi-wangian tetapi tidak disunnahkan kepada kaumwanita. Sabda Rasulullah s.a.w:

“Mana-mana wanita yang memakai wangian lalu dia melintas di hadapan lelaki supaya mereka dapat menghidu kewangiannya, dia adalah penzina.”- Hadis riwayat al-Nasaai di dalam Sunannya. no: 5036.

Namun begitu bukanlah bermakna kaum wanita harus membiarkan dirinya berbau busuk. Islam adalah agama yang menitik-beratkan kebersihan serta kesihatan diri. Dibenarkan bagi wanita untuk memakai wangian yang keharuman sekadar untuk menjaga dirinya dari berbau busuk dan tidak sehingga menarik perhatian orang di sekelilingnya. Haruman-haruman yang kuat dan boleh menaikkan nafsu berahi hanyalah khusus untuk suaminya.

• Berjalan kaki menuju tempat dikerjakan solat hari raya.

Umat Islam dianjurkan berjalan kaki menuju ke tempat solat Aidilfitri jika tidak keberatan. Ali bin Abi Thalib r.a:

“Termasuk sunnah, iaitu engkau berjalan kaki menuju ke tempat solat hari raya dan memakan sesuatu sebelum berangkat.” - Hadis riwayat al-Tirmizi di dalam Sunannya, no: 487.

Namun begitu bagi yang sesiapa yang perlu menggunakan kenderaan kerana tempat solat terlalu jauh, ia dibolehkan dalam syarak. Tetapi, berjalan kaki menuju ke tempat solat lebih afdal berbanding menaiki kenderaan.

. Mengikuti jalan yang berbeza ketika pergi dan kembali dari mengerjakan solat hari raya.

Disunnahkan juga mengikuti jalan yang berbeza ketika pergi dan kembali dari mengerjakan solat hari raya. Jabir bin ‘Abdullah r.a berkata:

“Nabi s.a.w melalui jalan yang berbeza pada hari raya.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahihnya, no: 986.

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah r.h berkata:

“Baginda s.a.w selalu melalui jalan yang berbeza ketika menuju dan pulang dari tempat solat pada hari raya. Ada yang berpendapat, hal ini dilakukan agar dapat bersalaman dengan orang-orang yang melalui kedua-dua jalan itu. Sebahagian lain berpendapat untukmemberikan barakah kepada mereka. Ada juga berpendapat untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang memerlukannya di kedua-dua jalan itu. Menurut pendapat lain pula untuk menampakkan syiar Islam di jalan-jalan. Pendapat yang lebih tepat adalah supaya perjalanan yang ditempuh lebih jauh (banyak langkahnya). Orang yang berjalan ke masjid atau tempat solat, salah satu langkah kakinya akan meninggikandarjat. Sedangkan langkah kaki yang lain akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” - Rujuk Zaadul Ma’ad, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, ms. 49.

• Tempat perlaksanaan solat hari raya.

Sunnah mengerjakan solat hari raya di kawasan lapang atau musholla (tempat terbuka seperti padang sehingga khatib dapat melihat semua hadirin) merupakan satu amalan yang jarang dilakukan di Malaysia melainkan beberapa kelompok kecil yang benar-benar kuat berpegang kepada sunnah Nabi s.a.w. Apakah musholla itu berbeza dengan masjid? Abu Said al-Khudri r.a berkata:

“Pada hari Aidilfitri dan Aidiladha, Rasulullah s.a.w keluar menuju ke musholla. Ketika itu, perkara pertama yang dilakukan oleh baginda ialah mengerjakan solat hari raya (tanpa ada sebarang solat sunat).” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahihnya, no: 956.

Tentang hikmah mengerjakan solat hari raya di musolla, Syeikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan telah berkata:

“Sesungguhnya mengerjakan kedua-dua solat hari raya di tanah lapang mengandungi hikmah yang besar. Di antaranya adalah seluruh kaum muslimin setidak-tidaknya mereka boleh berkumpul bersama (bersua muka) dua kali dalam setahun. Semua orang dariseluruh pelusuk negeri akan berkumpul di sebuah tempat sama ada lelaki, perempuan atau kanak-kanak. Mereka semua menghadap Allah dengan hati yang penuh konsentrasi, dikumpulkan dengan satu kalimat (tauhid), solat di belakang seorang imam, membaca takbir dan tahlil bersama dan berdoa kepada Allah dengan penuh ikhlas. Seakan-akan hati mereka terikat menjadi satu, merasa bahagia dan mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Dengan itu, hari raya benar-benar bermakna bagi mereka.” – Rujuk Koreksi Total Ritual Shalat, Syeikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan, ms. 394.

• Mengerjakan Solat Aidilfitri

Di antara syiar yang palin utama dalam menyambut Aidilfitri adalah perlakasanaan solat Aidilfitri sebanyak 2 rakaat oleh seluruh umat Islam. Ibn Abbas r.a berkata:

“Rasulullah s.a.w telah keluar pada hari raya Aidilfitri kemudian terus mengerjakan solat hari raya sebanyak dua rakaat. Baginda tidak melakukan sebarang solat sebelumnya dan sesudahnya.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahihnya, no: 989.

Disunnahkan menyampaikan khutbah sesudah mengerjakan solat hari raya Aidilfitri. Abu Sa’id al-Khudri r.a berkata:

“Pada hari raya Aidilfitri dan Aidiladha, Rasulullah s.a.w akan keluar menuju musolla. Perkara pertama yang dilakukan oleh baginda (apabila tiba di masjid) baginda akan mengimami solat. Kemudian, baginda akan berpusing dan menghadap ke arah makmum yang sedang duduk di dalam saf mereka. Seterusnya, baginda akan memberikan nasihat, wasiat dan perintah kepada mereka (khutbah).” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahihnya, no: 956.

Para jemaah tidak diwajibkan menghadiri atau mendengar khutbah hari raya. Sebaik sahaja selesai mengerjakan solat hari raya, sesiapa yang tidak ingin turut serta mendengar khutbah maka dia dibenarkan meninggalkan majlis itu. Abdullah bin al-Sa’ib r.a berkata:

“Aku pernah menghadiri solat hari raya bersama Nabi s.a.w. Setelah selesai solat baginda bersabda: Sesungguhnya kami akan berkhutbah. Oleh itu, sesiapa ingin duduk mendengar khutbah, dia boleh duduk. Sesiapa yang ingin pergi, dia boleh beredar.” - Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunannya, no: 975.

• Bergembira Pada Hari Raya Aidilfitri

Islam adalah agama yang begitu praktikal lagi munasabah. Setelah sebulan umat Islam memberi tumpuan sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah, maka kini tiba masanya untuk menyambut kejayaan itu dengan kegembiraan dan kemeriahan. Oleh itu, usaha-usaha untuk menimbulkan suasana kegembiraan di dalam keluarga masing-masing pada hari raya Aidilfitri adalah sebahagian daripada syiar Islam. Suasana kegembiraan ini berbeza mengikut adat setempat. Bagi kita di Malaysia, kegembiraan sambutan hari rayaAidilfitri dapat dilihat dengan memakai baju-baju baru yang indah, seluruh ahli keluarga berkumpul, ziarah-menziarah sesama umat Islam dan pelbagai lagi. Di sesetengah negara Timur Tengah, cuti umum hari raya Aidilfitri dipergunakan untuk membawa ahli keluargabersiar-siar serta berkelah di tempat-tempat peranginan. Semua bentuk suasana kegembiraan dan kemeriahan ini adalah sebahagian dari tuntutan agama Islam sempena menyambut hari raya Aidilfitri selagi ia dilaksanakan sesuai dengan lunas-lunas syarak. Syeikh Sayyid Sabiq r.h berkata:

“Mengadakan permainan serta kegembiraan yang tidak melanggar aturan agama, termasuk pelbagai bentuk nyanyian yang baik (dari segi makna), semua itu termasuk syiar agama yang disyariatkan oleh Allah pada hari raya untuk melatih tubuh jasmani dan memberi kepuasan serta kegirangan hati.” – Rujuk Fiqh al-Sunnah, Syeikh Sayyid Sabiq, jil. 2, ms. 290.

Rasulullah s.a.w sendiri telah membenarkan penduduk Madinah al-Munawwarah bergembira apabila munculnya hari raya Aidilfitri dan Aidiladha. Anas bin Malik r.a berkata:

“Nabi s.a.w pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya yang mana mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah pada kedua-dua hari itu. Lalu baginda berkata: Aku datang kepada kamu semua sedangkan kamu memiliki dua hari (raya) yang menjadi medan permainan kalian pada masa jahiliyyah. Sabdanya lagi: Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua-dua hari itu dengan yang lebihbaik, iaitu hari raya Aidiladha dan Aidilfitri.” - Hadis riwayat al-Nasaai di dalam Sunannya, no: 959.

• Mengerjakan Puasa Sunat Enam Hari Pada Bulan Syawal

Sabda Rasulullah s.a.w:

“Sesiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, seolah-olah dia telah berpuasa setahun.” - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahihnya, no: 1164.

Demikianlah keutamaan puasa sunat enam hari di bulan Syawal. Cara yang paling afdal untuk melaksanakannya adalah memulakan berpuasa sesudah hari raya Aidilfitri secara berturut-turut (bermula pada 2 Syawal) sebagaimana yang ditetapkan oleh para ulama. Ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Syafie r.h. Namun, seseorang bebas memilih mana-mana hari sepanjang bulan Syawal sama ada di awal, pertengahanmahupun di akhirnya bahkan dia juga boleh mengerjakan secara berturut-turut atau berpisah-pisah. Amalan sesetengah pihak yang melakukan puasa qada dan sunat Syawal secara serentak mengikut formula dua dalam satu merupakan perbuatan bid’ah yang tidak ada dalilnya dari mana-mana hadis Nabi s.a.w yang thabit. Oleh itu, afdhal menyempurnakan puasa bulan Ramadan yang ditinggalkan terlebih dahulu diikuti puasa sunat di bulan Syawal. Perbuatan ini lebih bertepatan dengan maksud hadis di atas untuk mendapat keutamaannya, iaitu seolah-olah berpuasa setahun.

PENUTUP

Inilah sebahagian daripada hukum-hakam dan amalan yang disunnahkan ketika menyambut bulan Ramadan al-Mubarak dan hari raya Aidilfitri menurut al-Quran dan sunnah yang sepatutnya dijadikan contoh ikutan bagi seluruh umat Islam. Mudah-mudahan, sambutan hari raya Aidilfitri yang akan menjelma nanti disambut dengan penuh keikhlasan, kemeriahan dan selari dengan perintah Allah serta Rasul-Nya s.a.w.

Edited by: Dr. Nasseri bin Taib

Tuesday, September 15, 2009

BUBUR LAMBUK SURAU AL-RIDZUAN TAMAN DAWANI


PADA 13 SEPT 2009 (Ahad)
WARGA SURAU AL-RIDZUAN TAMAN DAWANI
BERGOTONG ROYONG MENYEDIAKAN BUBUR LABUK

TAHNIAH KEPADA SELURUH WARGA KERJA


YANG NI SEMBANG KE REWANG.....
REWANG LAH BANG............



KERJASAMA MEMBAWA BERKAT


JANGAN LUPA NGANTOR KE RUMAH
TOK KETUA (Ketua Kampung)
SEKALI DENGAN
PAK IMAM YE.....

ALQURAN & RECITATION

Quran Explorer - [Sura : 1, Verse : 1 - 7]