Manuela-Mirela Tanasecu, perempuan asal Bucharest, Rumania ini terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang menganut agama Kristen Ortodoks. Meski tidak terlalu relijius, keluarga Mirela percaya akan adanya Tuhan. Mirela mulai mengenal Islam dari seorang da'i asal Tepi Barat, Palestina, Walid Sulaiman yang kemudian menjadi suaminya.
Tapi sebelumnya, ia sudah tertarik dengan Islam setelah berkunjung ke sejumlah negeri Muslim seperti Yordania, Suriah, Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia. Setelah menikah dengan Walid pada tahun 1991 di Bucharest, Mirela memutuskan menjadi muslimah. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Iran, saat melakukan kunjungan ke negara itu.
Mirela tertarik dengan Islam karena menurutnya doktrin-doktrin dalam Islam sangat jelas dibandingkan doktrin-doktrin dalam ajaran agama Kristen. Sebagai contoh, doktrin Trinitas yang dinilainya samar-samar, membingungkan dan sulit dipahami. "Doktrin semacam itu tidak ada dalam Islam yang mengajarkan monoteisme absolut," kata Mirela.
Ia menilai umat Islam lebih serius dalam masalah agamanya dibandingkan kaum Kristiani pada umumnya. "Umat Islam salat lima waktu sehari, sedangkan penganut Kristen ke gereja hanya pada hari Minggu dan kebanyakan yang datang ke gereja juga orang-orang yang sudah tua," ujarnya.
Salah satu perbedaan yang mencolok antara Islam dan Kristen, sambung Mirela, Islam sangat menghormati dan memuliakan para nabi dan rasulnya, tanpa pengecualian. "Ini merupakan titik kekuatan Islam, yang menunjukkan bahwa siapa saja yang mencintai Yesus bisa memeluk Islam tanpa harus menghentikan rasa cinta pada Yesus, karena Islam mengajarkan umatnya untuk meyakini dan mencintai para rasul Allah Swt," papar Mirela.
"Jadi, bisa saya katakan bahwa menjadi seorang muslim, saya mencintai dan memuliakan Rasulullah Muhammad Saw tanpa harus kehilangan Yesus yang dalam Islam dikenal sebagai Nabi Isa," imbuhnya.
Perjalanan Mirela ke sejumlah negeri Muslim membuka matanya bahwa umat Islam adalah umat yang ramah, dermawan dan siap membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Sebelum mengenal Islam, Mirale memiliki pandangan yang negatif tentang Islam karena Islam membolehkan seorang suami beristeri hingga empat orang. Mirale menganggap aturan itu merendahkan perempuan. Tapi kemudian, ia menilai lelaki muslim sangat perhatian dengan keluarga dan isterinya dibandingkan lelaki Barat non-Muslim.
Mirale mengatakan, Barat telah salah menilai Islam yang dituding merendahkan kaum perempuan. Pandangan itu muncul karena Barat mendapatkan informasi yang salah dan tidak memahami ajaran Islam yang sesungguhnya. Mirale tidak menepis kenyataan bahwa ada segelintir orang Islam yang berkontribusi menimbulkan pandangan yang salah tentang Islam, karena berperilaku tidak islami.
Sebagai muslimah, Mirale menghimbau para muslimah lainnya agar tidak mencontoh gaya hidup kaum perempuan Barat. Menurutnya, kaum perempuan di Barat sebenarnya sudah menjadi peradaban Barat yang sangat materilistis.
"Barat mengklaim telah membebaskan perempuan. Padahal jika dikaji lebih dalam, kaum perempuan di Barat sebenarnya sudah diperlakukan tidak manusiawi dan dijadikan sebagai komoditi serta obyek seksual semata. Setelah saya mengenal Islam, saya bisa mengatakan bahwa tidak ada agama yang memuliakan perempuan selain Islam," tutur Mirale. (ln/readislam)
Kalimat "Allahu Akbar" membahana dari pengeras suara. Bersamaan dengan seruan itu, ratusan orang memenuhi masjid untuk menunaikan salat. Sementara di luar masjid, di pinggir jalan berjejer toko-toko daging "halal" seperti suasana di kota Damaskus, Kairo atau Baghdad. Tapi suasana kota seperti itu bisa dijumpai di kawasan Bras, Sao Paulo ibukota Brazil.
Bras adalah kota yang didominasi para pekerja dan menjadi jantung Islam di negara Amerika Latin itu. Seperti kecenderungan di negara-negara non-Muslim, komunitas Muslim di Brazil juga mengalami peningkatan yang cukup pesat. Selama satu dekade terakhir, jumlah populasi Muslim meningkat dari ratusan ribu orang menjadi 1,5 juta orang dari 190 juta total jumlah penduduk di negeri Samba itu.
Selain itu, hampir di seluruh Brazil terdapat masjid-masjid yang sebagiannya dibiayai oleh negara-negara Muslim seperti Arab Saudi dan negara-negara di kawasan Teluk. Dibandingkan kota-kota lainnya di Brazil, denyut kehidupan komunitas Muslim dan kehadiran Islam paling terasa di kota Bras.
Menurut Mohammed Al Bukai, Muslim Brazil kelahiran Suriah yang mengelola sebuah masjid di Bras, gelombang kedatangan imigran Arab tiba di kota itu pada era tahun 1920-an. Karena lokasinya yang berada tepat di tengah wilayah Brazil, komunitas Muslim di Bras menawarkan berbagai kelas dan menyelenggarakan berbagai seminar bagi mereka yang tertarik dengan Islam.
"Serangan 11 September menjadi kunci munculnya rasa keingintahuan banyak orang tentang Islam, sekarang 15 persen komunitas Muslim kami bukan keturunan Arab tapi orang Brazil asli," ujar Al Bukai.
Pakar Islam dari Universitas Sao Paulo, Paulo Daniel Farah mengatakan bahwa agama Islam tumbuh hampir di seluruh negara Amerika Latin, khususnya di Brazil sejak budak-budak yang beragama Islam dari Afrika dibawa ke Brazil pada abad ke-19. Di Brazil sejarah itu baru boleh mulai dipelajari di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi pada tahun 2003 berdasarkan peraturan yang dikeluarkan pemerintah Brazil.
Para budak Muslim itu memimpin sejumlah pemberontakan penting untuk melawab perbudakan. Salah satunya adalah Pemberontakan Malê pada tahun 1835, sebuah pergerakan para budak di kawasan perkotaan di Amerika yang sejak lama mengalami penindasan. Mereka memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial-yang juga diajarkan dalam Islam-sebuah pesan yang sampai saat ini masih disuarakan kalangan warga kulit hitam miskin dan suku Indian Amerika yang ternarjinalkan.
Sejarah itu menjadi latar belakang mengapa banyak orang-orang Brazil keturunan Afrika yang jumlahnya hampir setengah dari seluruh penduduk Brazil, memilih masuk Islam. Fenomena ini, kata Daniel Farah, terutama banyak ditemui di kawasan industri di pinggiran kota Sao Bernardo.
Di kota itu, mencuat dengan megahnya dua menara masjid di antara barisan rumah-rumah bertingkat dua. Di masjid yang seluruh dindingnya di cat berwarna putih, Honerê al-Amin, 32, seorang artis musik hip-hop berkulit hitam mengorganisir kegiatan sosial komunitas Muslim. "Saya memainkan musik hip-hop untuk mengecam genosida terhadap anak-anak muda kulit hitam di Brazil, baru kemudian saya menemukan dalam sejarah negara saya tentang gelombang kedatangan Muslim ke negeri ini," kata Al-Amin yang sudah 10 tahun masuk Islam.
"Saya sangat terkesan dengan film Malcolm X dan sosok seperti Muhammad Ali, saya ingin bisa seperti mereka," sambungnya.
Selain komunitas kulit hitam, komunita kulit putih Brazil juga banyak yang masuk Islam. Salah satunya adalah Thamara Fonseca, 24, yang sudah berjilbab. Thamara yang berprofesi sebagai desainer pakaian itu mengatakan, para pelanggannya dan orang-orang Brazil pada umumnya menerima keislamannya.
"Mulanya, saya sering mendengar orang-orang di jalang berbisik-bisik 'lihat itu isteri Usamah bin Ladin dan Saddam Hussein, dia perempuan yang suka membom'," tutur Thamara.
"Tapi sekarang, tidak ada lagi orang yang berbisik-bisik seperti itu. Malah banyak orang yang datang pada saya dan bertanya tentang Islam," tukas Thamara senang. (ln/isc)
Orang yang meninggalkan solat fardhu adalah amat buruk dan sangat keji sekali, malahan ianya terlebih keji daripada iblis.
Ini kerana si iblis hanya enggan sujud kepada nabi Adam a.s. yang merupakan makhluk, tetapi orang yang meninggalkan solat adalah seorang yang enggan bersujud kepada Allah s.w.t yang merupakan Khaliq (pencipta).
Justeru itu, dosa meninggalkan solat itu amat besar sekali. Di Akhirat nanti seseorang yang meninggalkan solat itu akan dimasukkan ke dalam neraka.
Allah s.w.t telah menceritakan di dalam al-Quran, bahawa ahli syurga (Ashabul Yamiin) telah bertanya kepada penghuni neraka, yang bermaksud:
Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka? Mereka menjawab, kami dahulu bukan daripada golongan orang-orang yang bersolat.
Daripada Abdullah bin Umar r.a. daripada Nabi s.a.w. bahawa pada suatu hari baginda menyebut tentang solat lalu baginda bersabda, yang bermaksud:
Sesiapa yang memelihara solat, nescaya solatnya menjadi nur untuknya, ketandaan (iman) dan kelepasan (dari neraka) pada hari kiamat.
Sebaliknya sesiapa yang tidak memeliharanya nescaya tiada nur baginya, ketandaan dan kelepasan.
Malahan dia adalah (dikumpulkan dalam neraka yang paling panas sekali) bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubai bin Khalaf.
(Hadis riwayat Ahmad, at-Tabrani dan Ibnu Hibban).
Daripada Jabir r.a. meriwayatkan beliau telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, yang bermaksud:
Sesungguhnya meninggalkan solat ialah (perkara yang menghubungkan) seseorang dengan kufur.
(Hadis riwayat Ahmad dan lain-lainnya).
Ijma’ para ulama mengatakan bahawa hukum orang yang meninggalkan solat kerana ingkar terhadap kewajipannya, adalah jatuh kafir.
Namun, sekiranya seseorang itu meninggalkan solat atas sebab malas, tetapi dia tahu dia wajib solat, maka terdapat tiga pendapat ulama tentang hukumnya, iaitu:
Orang itu tidak menjadi kafir, tetapi dia menjadi fasik. Maka wajib atas pihak yang berkuasa bertindak menyuruhnya bertaubat kembali mengerjakan solat. Sekiranya dia enggan bertaubat maka dijalankan ke atasnya hukuman hudud, iaitu dibunuh dengan pedang. Ini pendapat Imam Malik, Syafi’e dan jumhur ulama salaf dan khalaf.
Orang itu menjadi kafir. Hukumnya sama seperti orang yang ingkar terhadap kewajipannya tadi. Ini adalah pendapat satu jemaah daripada para salaf yang diambil riwayatnya daripada Saidina Ali bin Abu Talib dan salah satu pandangan Imam Ahmad bin Hambal serta pendapat Abdullah bin al-Mubarak dan Ishak bin Rahawaih.
Orang itu tidak menjadi kafir dan tidak pula dibunuh, sebaliknya ditakzirkan dengan dipenjarakan sehingga dia mengerjakan solat. Ini pula adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan satu jemaah daripada para fuqahak Kufah dan juga pendapat al-Muzani seorang pendokong dan pengikut Imam asy-Syafi’e.
Orang yang mahu agamanya selamat dan dirinya bahagia di dunia dan akhirat, sudah tentu dia wajib menghindarkan dirinya dari terletak di antara hukum menjadi murtad dan berdosa besar.
بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على نبيه المصطفى، أما بعد
Khalifah kaum muslimin yang keempat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu jika melihat perkuburan beliau menangis mengucurkan air mata hingga membasahi jenggotnya.
Suatu hari ada seorang yang bertanya: تذكر الجنة والنار ولا تبكي وتبكي من هذا؟ “Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat perkuburan?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده أشد منه
“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka(siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “hasan gharib”. Syaikh al-Albani menghasankannya dalam Misykah al-Mashabih)
Bagaimanakah perjalanan seseorang jika ia telah masuk di alam kubur? Hadits panjang al-Bara’ bin ‘Azib yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Imam al-Hakim dan Syaikh al-Albanimenceritak an perjalanan para manusia di alam kuburnya:
Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di perkuburan, liang lahad masih digali. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam pun duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam di sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung gagak yang hinggap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memainkansepotong dahan di tangannya ke tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!” Beliau ulangi perintah ini dua atau tiga kali.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya seorang yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia dan telah mengharapkan akhirat (sakaratul maut), turunlah dari langit paramalaikat yang bermuka cerah secerah sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah malaikatpencabut nyawa dan mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut. Malaikat pencabut nyawa itu berkata, ‘Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau untuk menjemput ampunan Allah dan keridhaan-Nya’. Makanyawa itu (dengan mudahnya) keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil oleh malaikat pencabut nyawa dan dalam sekejapmata diserahkan kepada para malaikat yang berwajah cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga dan diberi wewangian darinya pula. Hingga terciumlah bau harum seharum wewangian yang paling harum dimuka bumi.
Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang amat mulia itu?’ ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’,jawab para malaikat yang mengawalnya dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia mereka meminta izin untuk memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh malaikatyang ada di langit itu ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya. Hingga mereka sampai di langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman, ‘Tulislah nama hambaku ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalukembalikanlah ia ke (jasadnya di) bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku bangkitkan.’
Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka berdua bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Rabbku adalah Allah’jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’, ‘Agamaku Islam’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Beliau adalah Rasulullahshallalla hu ‘alaihi wa sallam” jawabnya. ‘Dari mana engkau tahu?’ tanya mereka berdua. ‘Aku membaca Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan mempercayainya’. Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit yangmenyeru, ‘(Jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya’. Maka menghembuslah angin segar dan harumnya surga (memasukikuburannya ) lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata memandang.
Saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang amat tampan memakai pakaian yang sangat indah dan berbau harum sekali, seraya berkata, ‘Bergembiralah, inilah hari yang telah dijanjikan dulu bagimu’..Mukmin tadi bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kebaikan’. ‘Aku adalah amal salehmu’ jawabnya. Si mukmin tadi pun berkata, ‘Wahai Rabbku (segerakanlah datangnya) hari kiamat, karena akuingin bertemu dengan keluarga dan hartaku.
Adapun orang kafir, di saat dia dalam keadaan tidak mengharapkan akhirat dan masih menginginkan (keindahan) duniawi, turunlah dari langit malaikat yang bermuka hitam sambil membawa kain mori kasar.Lalu mereka duduk di sekelilingnya. Saat itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan duduk di arah kepalanya seraya berkata, ‘Wahai nyawa yang hina keluarlah dan jemputlah kemurkaan dan kemarahanAllah!’. Maka nyawa orang kafir tadi ‘berlarian’ di sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut nyawa tadi mencabut nyawa tersebut (dengan paksa), sebagaimana seseorang yang menarik besi beruji yangmenempel di kapas basah. Begitu nyawa tersebut sudah berada di tangan malaikat pencabut nyawa, sekejap mata diambil oleh para malaikat bermuka hitam yang ada di sekelilingnya, lalu nyawa tadi segeradibungkus dengan kain mori kasar. Tiba-tiba terciumlah bau busuk sebusuk bangkai yang paling busuk di muka bumi.
Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap mereka melewati segerombolan malaikat mereka selalu ditanya, ‘Nyawa siapakah yang amat hina ini?’, ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’ jawab mereka dengannamanya yang terburuk ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia, mereka minta izin untuk memasukinya, namun tidak diizinkan.
Rasulullah membaca firman Allah: لا تفتح لهم أبواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط “Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga, sampai seandainya unta bisa memasuki lobang jarum sekalipun.” (QS. Al-A’raf: 40)
Saat itu Allah berfirman, ‘Tulislah namanya di dalam Sijjin di bawah bumi’, Kemudian nyawa itu dicampakkan (dengan hina dina). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ta’ala: وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ
“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)
Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke jasadnya, hingga datanglah dua orang malaikat yang mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Mereka berdua kembalibertanya, ‘Apakah agamamu?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Saat itu terdengarseruan dari langit, ‘Hamba-Ku telah berdusta!
Hamparkan neraka baginya dan bukakan pintu ke arahnya’. Maka hawa panas dan bau busuk neraka pun bertiup ke dalam kuburannya. Lalu kuburannya di ‘press’(oleh Allah) hingga tulang belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya.
Tiba-tiba datanglah seorang yang bermuka amat buruk memakai pakaian kotor dan berbau sangat busuk, seraya berkata, ‘Aku datang membawa kabar buruk untukmu, hari ini adalah hari yang telah dijanjikanbagimu’. Orang kafir itu seraya bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kesialan!’, ‘Aku adalah dosa-dosamu’ jawabnya. ‘Wahai Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat’ seru orang kafirtadi. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 156)
Itulah dua model kehidupan orang yang telah masuk liang kubur. Jika kita menginginkan untuk menjadi orang yang dibukakan baginya pintu ke surga dan diluaskan liang kuburnya seluas mata memandang makamari kita berusaha untuk memperbanyak untuk beramal saleh di dunia ini.
Suatu amalan tidak akan dianggap saleh hingga memenuhi dua syarat: 1. Ikhlas2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan landasan dua syarat di atas.
Di antara dalil syarat pertama adalah firman Allah ta’ala: وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikianitulah agama yang lurus.” (QS.. Al-Bayyinah: 5)
Di antara dalil syarat kedua adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no 1718)) Allah menghimpun dua syarat ini dalam firman-Nya di akhir surat Al-Kahfi: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Maka mari kita manfaatkan kehidupan dunia yang hanya sementara ini untuk benar-benar beramal saleh. Semoga kelak kita mendapatkan kenikmatan di alam kubur serta dihindarkan dari siksaan di dalamnya,amin.
Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Tulisan ini terinspirasi dari kitab Majalis Al-Mu’minin Fi Mashalih Ad-Dun-Ya Wa Ad-Din Bi Ightinam Mawasim Rabb Al-’Alamin, karya Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syahlub (II/83-86) Wallahu A`lam bish-Showab.
Israel menolak sekeras-kerasnya permintaan AS untuk menghentikan pembangunan di Gilo yang dibina di atas tanah milik Palestin di bahagian selatan Baitulmuqaddis, serta menambah bahawa tidak ada perbezaan antara membangunkan id di situ atau di Tel Aviv.
Menurut akhbar Yedioth Ahronoth, seorang pegawai dari Jabatan Perdana Menteri Israel menyatakan yang permintaan AS itu merupakan sebuah prosedur biasa. Akhbar mengatakan bahawa AS menghantar George Mitchell ke timur tengah untuk membuat permintaan tersebut semasa pertemuan beliau baru-baru ini dengan Penasihat Perdana Menteri Israel, Yitzhak Molcho selepas kerajaan Amerika menerima maklumat tentang niat Israel untuk menyetujui rancangan pembinaan di Gilo.
Dr Salah al-Bardawil, jurucakap blok parlimen Hamas mengatakan bahawa perkembangan terbaru serangan Israel di Genting Gaza adalah usaha untuk mendapatkan reaksi antarabangsa berikutan laporan Goldstone.
Dalam sidang media pada hari Selasa lalu beliau berkata, Israel mungkin akan merancang jenayah baru dan sedang menguji kemungkinan usaha dunia untuk menyemak pencerobohan terbaru terhadap rakyat Palestin.
MP itu mengatakan Israel tidak memerlukan sebarang justifikasi untuk melancarkan jenayah baru kerana memang jenayah adalah budaya mereka, sambil menyatakan perkembangan itu juga dianggap secara mutlak telah mengabaikan kedudukan rasmi Arab yang tidak memberi reaksi apapun dalam menghadapi jenayah seperti itu.
Artikel ini tulisan Datuk Saifuddin Abdullah Timbalan Menteri Pengajian Tinggi tersiar di Utusan Malaysia 27 Nov 2009
Dr. Mohd. Asri Zainal Abidin, bekas Mufti Perlis dan pensyarah Universiti Sains Malaysia (USM) intelektual. Namun, sebagai manusia biasa, beliau tidak bebas daripada kelemahan. Begitu juga intelektual lain. Justeru, mereka boleh dikritik. Tetapi, cara beliau diserang baru-baru ini adalah tidak adil. Begitu juga dengan cara intelektual lain yang pernah diserang.
Islam meletakkan intelektual/ulama di tempat tertinggi, iaitu sebagai pewaris para Nabi (Hadis riwayat At-Tirmidzi). Kita memerlukan intelektual untuk mendefinisi, meneroka, membentuk, membangunkan, mempertahankan dan meneruskan tamadun dan peradaban.
Membina intelektual yang hebat, kelas pertama dan bertaraf dunia bukanlah mudah. Kita melakukan segala-galanya untuk melahirkan dan memperkukuhkannya. Antaranya, ialah menyediakan pensyarah universiti berkelulusan PhD atau setaraf.
Kita juga berusaha mewujudkan iklim yang kondusif untuk membangunkan intelektual dan meningkatkan peranannya. Antaranya ialah melonjakkan budaya ilmu, menggalakkan debat, merancakkan penyelidikan dan memperbanyakkan penulisan.
Menurut Syed Hussein Alatas (1977), dalam bukunya Intelektual Masyarakat Membangun, definisi intelektual ialah
“orang yang memusatkan diri untuk memikirkan idea dan masalah, bukan kebendaan, dengan menggunakan kemampuan akliahnya”.
Menurutnya lagi,
“Pengetahuan tentang suatu pokok permasalahan tertentu atau memiliki sesuatu gelar tertentu belumlah membuat orang menjadi intelektual, walaupun hal ini sering kali berdampingan: banyak didapati pemegang gelar dan profesor yang tidak memusatkan diri untuk mengembangkan bidang mereka atau berusaha menemukan pemecahan atas masalah tertentu dalam bidangnya. Sebaliknya, orang yang tanpa kelayakan akademik dapat menjadi intelektual apabila dia memanfaatkan kemampuan berfikirnya dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pokok bahasan yang diminatinya.”
Intelektual diharapkan memikul amanah tamadun dan peradaban dengan sebaik-baiknya. Mereka perlu mengelakkan diri daripada menjadi fenomena di US, iaitu yang disebut oleh Frank Furedi (2004) dalam bukunya Where Have All the Intellectuals Gone?, di mana pemikir seperti Betrand Russel, Raymond Williams atau Hannah Arendt, iaitu tokoh yang mempunyai ilmu yang tulen, visi yang luas dan prihatin terhadap isu-isu masyarakat telah diganti oleh peramal yang dangkal, pengkaji yang apologis dan pakar pemutar isu.
Datuk Saifuddin Abdullah
Intelektual subur dalam masyarakat yang menghayati budaya ilmu, yang menurut Wan Mohd Nor Wan Daud (1991) dalam bukunya, Penjelasan Budaya Ilmu, ialah masyarakat yang meletakkan ilmu dan ilmuwan di tempat tertinggi, sentiasa menuntut, mengembang dan mengongsi ilmu serta setiap keputusan adalah berasaskan ilmu.
Malangnya, dalam sejarah, berlaku beberapa tragedi intelektual dibunuh. Di barat, ada intelektual dibunuh kerana bertentangan pendapat dengan pihak berkuasa agama. Di timur, ada Revolusi Kebudayaan yang mengorbankan satu generasi intelektual. Di sini, intelektual Kaum Muda dihentam Kaum Tua.
Antara ciri-ciri lazim intelektual dan penentangnya ialah:
Intelektual berusia muda, walaupun ada yang berumur. Penentangnya lebih tua, atau kalaupun muda, tetapi tua pemikirannya.
Intelektual rajin menulis buku dan rencana, membentang kertas kerja di seminar ilmiah, menjadi kolumnis, sering diundang media elektronik serta ada laman web, blog dan sebagainya. Penentangnya kurang rajin.
Intelektual aktif mengeluarkan pendapat tanpa ragu atau ampu. Penentangnya kurang aktif.
Intelektual kritis, progresif dan adakalanya berbeza dengan pemikiran arus perdana. Penentangnya jumud, sering bersama arus perdana, manakala arus perdana adakalanya tidak mempunyai apa-apa pemikiran pun.
Intelektual artikulasi. Penentangnya tidak mampu berhujah.
Intelektual menggunakan pendekatan bijaksana, dinamik dan sesuai dengan keperluan kontemporari. Penentangnya terikat dengan pendekatan lama yang ditolak kumpulan sasar.
Antara cara penentangan yang lazim terhadap intelektual ialah:
Tuduh pendapat intelektual bukan idea baru tetapi idea lama yang dikitar semula. Sebenarnya, penentangnya tidak mengikuti atau memahami idea baru yang disampaikan intelektual. Kalaupun ada idea lama yang diungkap semula, bukankah sentiasa ada manusia baru yang perlu diulangkan ajaran yang sama? Contohnya, guru yang sama perlu mengajar subjek yang sama setiap tahun kerana menerima murid baru.
Tuduh intelektual bincang perkara ranting dan bukan fundamental atau prioriti. Sebenarnya, penentangnya tidak mengikuti atau memahami ketika banyak perkara fundamental dan prioriti dibincangkan intelektual, lalu diambillah perkara ranting itu untuk ditonjolkan.
Tuduh intelektual membawa faham yang salah. Sebenarnya, penentangnya tidak tahu pun apa yang dikatakan salah itu, tidak tahu bahawa apa yang dikatakan salah itu tidak salah pun, dan tidak sedar bahawa dirinya sendiri pun menggunakan apa yang dikatakan salah itu.
Tuduh intelektual mengelirukan. Sebenarnya, penentangnya tidak selesa dengan tradisi ilmu yang menggalakkan debat dan lebih suka menggunakan kuasa untuk menutup mulut orang lain.
Tuduh intelektual menonjolkan diri. Sebenarnya, penentangnya yang tidak berbuat apa-apa dan iri hati melihat orang lain lebih.
Tuduh intelektual rapat dengan orang yang dianggap kurang baik. Sebenarnya penentangnya bersifat prejudis, menganggap dirinya sempurna.
Tuduh intelektual mencerca ulama. Sebenarnya intelektual bukan “mencerca”, tetapi “mengkritik”, yang digalakkan tradisi ilmu. Kecualilah jika ulama maksum lalu tidak boleh dikritik. Masalahnya, ada yang mendakwa ulama itu bukan pun ulama.
Tetapi, apa yang lebih penting ialah mengapakah dibezakan antara “intelektual” dan “ulama“? Masihkah ingin diteruskan unsur sekularisme dalam menguruskan Islam dengan mewujudkan golongan penguasa dan pendominasi agama serta terus menerus memisahkan intelektual dengan ulama?
Lupakah kita pada usaha-usaha, contohnya, “pengislaman ilmu” oleh Ismail Faruqi dan “mengintelektualkan ulama dan mengulamakkan intelektual” oleh Mohd Natsir?
Tuduh intelektual muda kurang pengalaman atau tidak menghormati orang tua. Sebenarnya penentangnya lupa bahawa dunia telah berubah. Pengalamannya mungkin tidak lagi relevan, hormat perlu diusahakan bukan dipaksakan dan kini wujud konsep baru seperti penghakupayaan dan partisipasi orang muda.
Larang intelektual bercakap tajuk tertentu. Ini bertentangan dengan prinsip kebebasan bersuara.
Utamakan seniority dalam peruntukan penyelidikan atau lantikan jawatan hingga intelektual ketinggalan. Ini bertentangan dengan nilai kecemerlangan.
Cari, malahan cipta, kelemahan intelektual. Ini dendam peribadi.
Apabila berlaku pertelingkahan antara intelektual dan penentangnya, maka penentangnya mencadangkan agar berdamai. Tetapi, perdamaian perlu dilaksanakan dengan adil.
Apabila intelektual yang diserang mempertahankan haknya, penentangnya tidak mampu berhujah, lalu menyelamatkan diri dengan mencadangkan berdamai. Kalau perkara ini berulang, maka intelektual akan sentiasa menjadi mangsa penentangnya dalam fenomena pembulian intelektual.
Kesimpulannya, kita perlu memperkukuh, bukannya membunuh intelektual.
Datuk Saifuddin Abdullah ialah Timbalan Menteri Pengajian Tinggi
Puasa hari ‘Arafah ialah puasa sunat pada hari kesembilan Dzulhijjah yang disunatkan bagi mereka yang tidak melakukan ibadah haji. Kelebihan berpuasa pada hari ini ialah ia dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang, sebagaimana hadith yang telah diriwayatkan daripada Abu Qatadah al-Anshari ra:
Dan Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari ‘Arafah. Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadith Riwayat Imam Muslim)
Manakala bagi mereka yang melakukan ibadah haji pula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ummu al-Fadhl binti al-Harith:
Ramai di kalangan sahabat Rasulullah SAW yang ragu-ragu tentang berpuasa pada hari ‘Arafah sedangkan kami berada di sana bersama Rasulullah SAW, lalu aku membawa kepada Baginda satu bekas yang berisi susu sewaktu Baginda berada di ‘Arafah lantas Baginda meminumnya. (Hadith Riwayat Imam Muslim)
Juga daripada hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:
Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada Hari ‘Arafah bagi mereka yang berada di ‘Arafah. (Hadith Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’ie; at-Thabrani dari Aisyah rha) [1]
Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Dzulhijjah di samping berpuasa pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) sebagai langkah berhati-hati yang mana kemungkinan pada hari ke 8 Dzulhijjah itu adalah hari yang ke 9 Dzulhijjah (Hari ‘Arafah). Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari, iaitu dari hari yang pertama bulan Dzulhijjah hingga ke hari yang kelapan sama ada bagi orang yang mengerjakan haji atau tidak mengerjakan haji, bersama-sama dengan hari ‘Arafah.Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra:
Rasulullah SAW bersabda: “Tiada amal yang soleh yang dilakukan pada hari-hari lain yang lebih disukai daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama dalam bln Dzulhijjah).” (Hadith Riwayat al-Bukhari)
Dalam hadith yang lain yang diriwayatkan dari Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, dari beberapa isteri Nabi SAW:
Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah, di hari ‘Asyura dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya. (Hadith Riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’ie)
Adapun berpuasa pada hari Aidiladha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah diharamkan berdasarkan hadith yang diriwayatkan dari Umar ra:Bahawasanya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, iaitu ‘Eid al-Adha dan ‘Eid al-Fitr. (Hadith Riwayat Imam Muslim, Ahmad, an-Nasa’ie, Abu Dawud)
Serta hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:
Rasulullah SAW telah mengirimkan Abdullah Ibn Huzhaqah untuk mengumumkan di Mina: “Kamu dilarang berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyrik). Ia adalah hari untuk makan dan minum serta mengingati Allah.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad, sanadnya hasan) [2]Allahu a’lam bisshawab... ——————————————————
[1] al-Imam as-Syaf’ie rh berpendapat; “Disunatkan puasa pada hari ‘Arafah bg mereka yang tidak mengerjakan ibadah haji. Adapun bg yang mengerjakan ibadah haji, adalah lebih baik untuknya berbuka agar ia kuat berdoa di ‘Arafah.” Dari pendapat Imam Ahmad rh pula; “Jika ia sanggup berpuasa maka boleh berpuasa, tetapi jika tidak hendaklah ia berbuka, sbb hari ‘Arafah memerlukan kekuatan (tenaga).” Begitu juga dengan para sahabat yang lain, lebih ramai yang cenderung untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah ketika mengerjakan ibadah haji
[2] Ulama Syafi’iyyah membenarkan untuk berpuasa pada hari tasyrik hanya untuk keadaan tertentu seperti bersumpah, qadha puasa di bulan Ramadhan serta puasa kifarah (denda). Puasa tanpa sebab tertentu pada hari-hari ini (puasa sunat) adalah ditegah.
Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin http://www.almanhaj.or.id/content/2001/slash/0
Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fisabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fisabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".
Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid".
MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN
[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga".
[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah. Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadis Qudsi :
"Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku".
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun". [Hadits Muttafaq 'Alaih].
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya".
[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta'ala.
"Artinya : .... dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ...". [Al-Hajj : 28].
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma.
"Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid". [Hadits Riwayat Ahmad].
Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha', tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu"
"Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah(Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah".
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
"Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ...". [Al-Baqarah : 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do'a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.
Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do'a-do'a lainnya yang disyariatkan.
[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa. Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta'atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya" [Hadits Muttafaq 'Alaihi].
[5]. Banyak Beramal Shalih. Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma'ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama'ah ; bagi selain jama'ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.
[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq. Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta'ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu". [Muttafaq 'Alaihi].
[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu 'Anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari(memotong) rambut dan kukunya".
Dalam riwayat lain : "Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban".
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.
"Artinya : ..... dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan...". [Al-Baqarah : 196].
Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.
[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya. Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.
[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas. Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.
" (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir ". (QS: Qaaf : 17/18)
"Dan senantiasa seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan amalan Sunnah sehingga Aku mencintainya." (HR Bukhari)
"Ya Allah, Rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan (urusan) ku kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tiada ilah selain Engkau." (HR Abu Daud dgn sanad yg sohih)
Ustaz, di ketika ini agak heboh perbincangan berkenaan boleh atau tidak orang bukan Islam masuk masjid dan meberi ucapan. Saya ingin bertanya kepada ustaz tentang hal ini, adakah perbincangan ulama di dalam hal ini atau memang tidak dibenarkan? Setahu saya, mazhab Syafie membenarkan jadi adakah pandangan yang melarang ini adalah pandangan pengikut Wahabi?.
Sebelum menjawab persoalan yang diutarakan oleh saudara penyoal, saya ingin terlebih dahulu menjelaskan, paling kurang terdapat tiga isu yang diperbincangkan oleh ulama Islam di dalam hal ini.
Pertama : Bukan Islam memasuki Masjidil Haram.
Kedua : Sebab mengapa bukan Islam dilarang memasuki masjidil haram.
Ketiga: Bukan Islam memasuki masjid selain masjidil Haram
Saya akan cuba meringkaskan jawapan bagi ketiga-tiga persoalan sekaligus secara padat dan mampu difahami, InshaAllah.
Asas rujukan hukum bagi persoalan ini diambil dari dua ayat berikut :
Ertinya : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu kotor, maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini.. (At-Taubat : 28)
Ertinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja." ( 4:43 )
MASUK MASJIDIL HARAM
Majoriti ulama melarang bukan Islam memasuki masjidil haram atas larangan yang terdapat di dalam ayat diatas. Namun Imam Abu Hanifah dan Ahmad mempunyai sedikit perincian dalam hal tersebut.
Berdasarkan dua ayat ini, majoriti ulama dari kalangan mazhab maliki dan Syafie melarang bukan Islam memasuki Masjidil Haram, namun demikian dibenarkan bagi ahli Kitab (Kristian dan Yahudi) untuk memasukinya dengan syarat-syarat tertentu.
Imam Abu Hanifah pula menyatakan non-muslim dibenarkan untuk memasuki masjidil haram sekadar lalu, namun tidak dibenarkan untuknya duduk dan menetap di sana (sebagaimana sebahagian umat Islam); ini kerana beliau berpandangan, ‘kotor' yang disebut di dalam ayat itu hanyalah membawa maksud kekotoran syirik yang melibatkan hati bukannya kekotoran fizikal. Lebih dari itu, Ibn Hajar menyatakan mazhab Hanafi membenarkan bukan Islam memasuki masjid tanpa syarat.
Imam Ahmad Hanbal pula menyatakan bukan Islam hanya dibenarkan untuk memasuki masjidil haram dan lainnya setelah mendapat kebenaran dari umat Islam atas tujuan-tujuan yang munasabah seperti pembinaan dan maintainance. Beliau mengambil dalil iaitu penduduk Taif dibenarkan oleh nabi s.a.w untuk menetap dan tinggal di masjid sebelum mereka memeluk Islam.
Rasulullah juga diriwayatkan menerima tetamu Kristian dari Najran di dalam masjid Madinah, malah ketika itu mereka juga diizinkan oleh Nabi s.a.w untuk menunaikan sembahyang mereka di dalam masjid, nabi menyebut kepada sahabat
"Biarkan mereka (untuk melunaskan sembahyang mereka)"
Selain itu, Imam Al-Bukhari juga ada membawakan sebuah hadis yang menyebut bagaimana seorang bukan Islam bernama Thamamah ibn Athal, diikat oleh Rasulullah di dalam masjid (ditanglkap atas kesalahan tertentu),
بعث رسول اللَّهِ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ من بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ له ثُمَامَةُ بن أُثَالٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ من سَوَارِي الْمَسْجِدِ
Ertinya : Rasulullah s.a.w menghantar seorang berkuda di arah Najd, maka terlihat seorang lelaki dari Bani Hanfiah ( sedang mengintip) yang bernama Thumamah Bin Uthal, lalu diikatnya di satu tiang dari tiang-tiang masjid ( Riwayat Al-Bukhari & Muslim )
Selepas tiga hari, akhirnya setelah dia melihat bagaimana umat islam beribadah dan keramahan umat Islam kepadanya yang sentiasa bertanya keadaannya, dia akhirnya memeluk Islam kerana tertawan melihat keindahan kehidupan dan ibadah umat Islam.[1]
HUKUM MASUK MASJID SELAIN MASJIDIL HARAM
Imam Ibn Hajar Al-‘Asqolani ketika menghuraikan isu ini mengatakan mazhab Maliki tetap MELARANG bukan Islam memasuki masjid manakala Mazhab Syafie, Hanbali danHanafi membenarkan bukan Islam untuk memasuki masjid-masjid lain dengan syarat-syarat tertentu. Beliau juga menegaskan kebenaran ini cukup kuat dari dalil tawanan perang bernama Thumamah tersebut.
Imam Nawawi menghuraikan :
وفي هذا جواز ربط الأسير وحبسه وجواز إدخال المسجد الكافر ومذهب الشافعي جوازه بإذن مسلم سواء كان الكافر كتابيا أو غيره وقال عمر بن عبد العزيز وقتادة ومالك لا يجوز
Ertinya : Melihat kepada hadis ini, harus hukumnya mengikat tawanan dan menahannya serta harus juga seorang yang bukan Islam untuk memasuki masjid. Mazhab Syafie : menyatakan keharusannya dengan syarat terdapat keizinan dari umat Islam sama ada kafir itu dari kalangan ahli Kitab atau selainnya. Namun Khalifah Umar bin Abd Aziz, Qatadah dan Imam Malik tidak mengharuskannya. (Syarah Sohih Muslim, 12/87)
Selain yang diatas, anak murid Imam Syafie yang utama iaitu Al-Muzani juga berbeza ijtihad dengan gurunya, beliau menyatakan TIDAK HARUS bukan Islam memasuki masjid apatah lagi menetap di dalamnya, kerana jika mereka dibenarkan, sudah tentu orang yang berjunub juga akan dibenarkan. Sedangkan ayat di atas menyebut larangan bagi mereka yang berjunub memasuki masjid kecuali lalu sahaja.
Al-Mawardi memetik kata Al-Muzani iaitu :-
لأنه لو جاز ذلك له لكان الجنب المسلم أولى به لموضع حرمته وتشريفهفلما لم يجز للمسلم المبيت فيه كان المشرك أولى
Ertinya : Sekiranya harus (bagi bukan Islam masuk masjid), sudah tentu muslim yang berjunub lebih utama untuk dibenarkan disebabkan kehormatannya dan kemuliaannya, maka di ketika TIDAK HARUS bagi seorang Muslim menetap di dalamnya, maka tentulah bukan Islam lebih lagi dilarang (kerana mereka dikira sentiasa berjunub) ( Al-Hawi Al-Kabir, 2/268)
Imam Al-Mawardi As-Syafie membawakan pula teks kata-kata Imam Syafie dalam hal ini iaitu :-
ولا بأس أن يبيت المشرك في كل مسجد إلا المسجد الحرام
Ertinya : Tiada masalah untuk seorang bukan Islam menetap di setiap masjid kecuali masjidil Haram. ( Al-Hawi Al-Kabir, 2/268)
KESIMPULANNYA
Majoriti ulama bersepakat bukan Islam TIDAK BOLEH MEMASUKI masjidil haram, namun dengan agak ketara mereka berbeza ijtihad dalam menentukan hukum bagi masjid-masjid yang lain.
Namun demikian, majoriti ulama silam dan kontemporari dilihat mengharuskan bagi masjid-masjid biasa dengan syarat-syarat tertentu seperti :-
1)Mestilah dengan izin umat Islam atau badan berkuasa Islam bagi masjid berkenaan.
2)Mestilah mempunyai sebab yang munasabah untuk memasukinya sama ada untuk mendengar penerangan berkenaan Islam, mendaftar sesuatu, bertanya, melihat dan mempelajari cara ibadah umat Islam dan yang seumpamanya.
3)Mereka mestilah menghormati seluruh keadaan dan alatan masjid, tidak membuat kebisingan dan memakai pakaian yang sesuai seperti menutup aurat bagi wanitanya yang izin memasuki masjid.
Berkenaan sama ada larangan memasuki masjid adalah pandangan wahabi atau tidak. Ia tidak berkaitan dengan wahabi, sememangnya terdapat sebahagian ulama yang melarang, namun mereka yang disebut di atas semuanya berada di zaman sebelum lahirnya Syeikh Muhammad Ibn Abd Wahab. Justeru, tiada sebarang kaitan dengannya.
Namun demikian, jika apa sahaja yang berbeza dengan mazhab Syafie itu dilabel sebagai Wahabi oleh orang Malaysia, maka mereka yang melarang mungkin boleh digelar Wahabi. Wallahu'alam.
Cuma sedariah tindakan label melabel ini adalah bukanlah satu tindakan yang tepat malah tidak boleh sama sekali disebabkan satu isu dua pandangannya, habis digeneralisasikan seseorang itu sebagai Wahabi dan semua ciri-ciri yang direka. Bersikap wajar dan adillah.
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallammerupakan teladan bagi orang-orang beriman dalam segala hal. Beliau teladan dalam hal dzikrullah (mengingat Allah). Sehingga suatu ketika Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu’anha pernah memberi kesaksian.
Aisyah radhiyallahu’anhaberkata: ”Nabi shollallahu ’alaih wa sallam senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.” (HR Bukhary 558)
Lalu dalam hadits yang lain putera Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma bersaksi bahwa beliau benar-benar menghitung dalam satu kali duduk dalam suatu majelis Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallamtidak kurang dari seratus kali memohon ampun dan bertaubat kepada Allah.
Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucapkan 100 kali (istighfar dalam majelis): “Ya Rabb, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.” (HR Abu Dawud 1295)
Kebiasaan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan serta memohon ampunan Allah menunjukkan betapa seriusnya beliau dalam upaya menjalin hubungan dengan Allah Rabbul ‘aalamien. Nabi shollallahu ’alaih wa sallamtidak ingin melewatkan sesaatpun tanpa mengingat Allah dan memohon ampunanNya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin menunjukkan kepada para pengikutnya bahwa seorang yang mengaku beriman sudah sepatutnya memperbanyak mengingat Allah. Sebab semakin sering mengingat Allah berarti akan semakin tenteram hati seseorang.
”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingai Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’du ayat 28)
Ketenteraman Nabi shollallahu ’alaih wa sallamdan orang-orang beriman muncul ketika sedang mengingat Allah. Dan Allah menyuruh orang-orang beriman untuk mengingat Allah sebanyak mungkin. Tidak seperti orang-orang munafik yang tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Mereka tidak merasa perlu untuk sering apalagi banyak mengingat Allah. Mereka mengerjakan sholat dengan kemalasan dan dengan niyat untuk dilihat dan dipuji manusia. Pada hakikatnya orang-orang munafik kalaupun mengingat Allah, maka mereka hanya dzikir dengan jumlah yang sangat sedikit dan tidak berarti.
”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS AN-Nisa ayat 142)
Lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan hamba Allah yang gemar memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin mendidik ummatnya agar selalu menghayati bahwa manusia selalu dalam keadaan banyak berbuat dosa. Sehingga manusia selalu membutuhkan ampunan Allah. Manusia selalu dalam keadaan cenderung menyimpang dari jalan yang lurus. Sehingga manusia perlu untuk selalu bertaubat (kembali) kepada Allah dan jalan Allah.
Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallammengajarkan suatu lafal doa yang disebut Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar). Nabi shollallahu ’alaih wa sallammemotivasi orang-orang beriman melalui lafal doa Sayyidul Istighfar. Barangsiapa yang setiap hari membiasakan dirinya membaca doa tersebut dengan penuh keyakinan, maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallammenjamin pelakunya sebagai penghuni surga di akhirat kelak.
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Penghulu Istighfar ialah kamu berkata: “Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta (Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).” Barangsiapa yang membaca doa ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang membaca doa ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhary 5831)
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang gemar mengingatMu, gemar memohon ampunanMu dan gemar bertaubat (kembali) ke jalanMu. Amin ya Rabb.-