
Tuesday, March 16, 2010
Sunday, March 14, 2010
Kerja Keras Muslim Eropa untuk Mengakhiri Blokade Israel di Gaza
Ketua ECESG Dr. Arafat Madi mengatakan, peranan Muslim Eropa dalam upaya mengakhiri blokade dilatarbelakangi oleh prinsip-prinsip hukum dan kemanusiaan yang sejalan dengan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat dan pemerintahan negara-negara Eropa. Untuk itu, Madi bersama tokoh-tokoh Muslim di Eropa melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat penting di Eropa untuk membicarakan masalah blokade Israel di Jalur Gaza.
Pekan ini, Dr. Madi bertemu dengan Presiden Parlemen Eropa Jerzy Buzek. "Pertemuan itu menyinggung tentang pentingnya mengaktifkan peranan Eropa dalam upaya mengakhiri blokade di Gaza," ujarnya.
"ECESG melakukan semua upaya politik untuk mengakhiri blokade di Gaza. Kami juga sudah mengontak para pejabat dan pemerintahan di seluruh Eropa untuk melakukan tekanan agar blokade di Gaza diakhiri dan mendesak agar Eropa berperan lebih efektif di kawasan untuk memulihkan hak-hak Israel yang sah," papar Dr. Madi.
Lebih lanjut ketua ECESG itu mengatakan bahwa organisasinya bekerjasama dengan anggota Parlemen Eropa sudah mengambil langkah-langkah untuk mengajukan gugatan hukum ke Pengadilan Eropa, untuk memutus kesepakatan kerjasama antara Uni Eropa dengan Israel karena Israel telah melanggar kesepakatan yang mensyaratkan agar Israel menghormati hak asasi manusia.
Dr Madi menyatakan, ECESG yang berbasis di Brussels juga terus menerus menyebarkan informasi tentang dampak dari blokade Israel terhadap 1,6 juta penduduk Gaza. Organisasi itu menggalang dukungan untuk warga Gaza publik melalui media, aksi-aksi unjuk rasa serta aksi duduk diam di depan gedung-gedung pemerintahan Eropa.
"ECESG juga melakukan kampanye media dan penyadaran masyarakat di universitas-universitas serta mengirim email ke para politisi, pembuat keputusan dan media massa tentang penderitaan warga Gaza akibat blokade Israel. Selain itu, kami juga mengorganisir konvoi bantuan ke Jalur Gaza. Kami mengurus kunjungan delegasi-delegasi Eropa ke Gaza agar bisa menyaksikan tragedi yang disebabkan oleh blokade itu," kata Dr. Madi.
Bulan Februari, Menteri Luar Negeri Irlandia, Michael Martin memimpin satu delegasi untuk melihat langsung situasi di Gaza. "Apa yang saya saksikan di Gaza, di tengah semua puing-puing dan kehancuran, adalah sebuah populasi yang mengalami trauma dan kemiskinan akibat blokade yang sangat sangat kontra produktif dan tidak adil," ungkap Martin.
Ia menambahkan, tragedi di Gaza dalam bahaya menjadi sebuah krisis kemanusiaan yang ditoleransi. "Situasinya sangat sulit untuk diperbaiki atau untuk memperbaikinya akibat blokade dan perbedaan pandangan yang makin luas dalam upaya mencapai kemajuan politik di Timur Tengah," tukas Martin.
Namun, Dr Madi berharap upaya yang dilakukan kaum Muslimin di Eropa bisa membuahkan hasil untuk segera mengakhiri blokade di Gaza karena blokade Israel terhadap warga Gaza merupakan pelanggaran hukum dan norma internasional. Menurut Dr. Madi, Israel tidak berani terus melanjutkan blokadenya jika tidak mendapat dukungan dari Barat.
"Harus ada tekanan terhadap para pembuat keputusan di Barat, khususnya di Eropa, karena mereka memainkan peranan penting untuk mengakhiri blokade keji itu," tandasnya. (ln/iol)
"Saya Memilih Islam, Meski Harus Melawan Budaya dan Keluarga"
Nama muslimnya Aysha. Muslimah ini berasal dari Hungaria Utara. Pertama kali mendengar tentang Islam ketika ia masih di sekolah menengah saat mata pelajaran sejarah. Sekedar informasi, Hungaria pernah berada dibawah pendudukan Turki selama 150 tahun.
Selanjutnya, Aysha kuliah di universitas jurusan biologi molekular, di mana ia bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim dari negara lain. Sejak lama sebenarnya Aysha bertanya-tanya mengapa Muslim selalu bangga dengan kemuslimannya. Aysha sendiri, ketika itu penganut agama Kristen Katolik. Ia cukup taat dengan agamanya, tapi ia masih meragukan dan tidak setuju dengan beberapa bagian dari ajaran agamanya, misalnya; bagaimana bisa Tuhan memiliki anak laki-laki. Ia juga tidak bisa mempercayai konsep Trinitas dalam ajaran Katolik.
Aysha kemudian sering berdiskusi dengan teman-temannya. Suatu ketika ia dan teman-temannya sedang makan malam dan terdengar suara azan. Saalah seorang temannya meminta mereka diam sejenak, tapi Aysha menolak. Meski demikian, Aysha mengaku sangat terkesan temannya itu dan merasakan sesuatu telah menyentuh hatinya.
Pada suatu musim panas, Aysha mengunduh program Al-Quran dari internet. Ia tidak tahu mengapa dan untuk apa ia melakukan hal. Aysha lalu mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam bahasa Arab dan membaca terjemahannya dalam bahasa Inggris. Sejak itu, Aysha banyak berpikir tentang agama Islam dan ia mulai banyak membaca banyak buku tentang Islam.
Setelah dua bulan terus memikirkan agama Islam, Aysha memutuskan untuk masuk Islam. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh dua sahabat saya, "La ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah".
"Saya memilih Islam, meski harus melawan budaya dan keluarga, terutama ibu saya," kata Aysha.
Bulan Ramadan pun tiba. Aysha membulatkan tekadanya untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang Muslimah bersama bulan suci Ramadan. Dan ia bersyukur karena berhasil melalui bulan Ramadan dengan sukses. Hal yang paling sulit buat Aysha sebagai seorang mualaf adalah saat ia belajar salat, karena ia tinggal di lingkungan non-Muslim dan ia tidak bisa bertanya pada orang-orang di sekelilingnya.
"Saya belajar sendiri bagaimana cara salat dari Internet, karena tidak ada yang menunjukkan pada saya bagaimana melaksanakan salat , bagaimana cara berwudhu, atau apa doa yang diucapkan sebelum melakukan kegiatan itu serta bagaimana etika dan hukum Islam itu," tutur Aysha.
Aysha pernah punya seorang teman pria yang membuatnya patah semangat. Temannya itu mengatakan bahwa Aysha tidak akan pernah bisa memahami Islam, karena Aysha tidak dilahirkan sebagai seorang Muslim. Ketika Aysha mengatakan bahwa ia ingin berpuasa pada bulan Ramadan, temannya itu mengatakan bahwa puasa bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar. Waktu itu Aysha baru satu bulan menjadi seorang muslim.
"Saat itu saya ketakutan, bagaimana jika saya tidak pernah belajar menunaikan salat dalam bahasa Arab? Bagaimana jika saya tidak melakukannya dengan cara yang benar? Dan saya tidak punya jilbab atau sajadah untuk salat. Tak yang membantu saya, sehingga saya begitu ketakutan," ungkap Aysha.
"Tapi ketika saya mulai salat, saya berpikir Allah pasti sedang tersenyum melihat saya sekarang. Karena saya menuliskan bacaan-bacaan salat di selembar kertas di atas kertas, beserta instruksinya. Saya memegang kertas itu di tangan kanan dan membacanya dengan keras. Kemudian sujud dan membacanya lagi dan begitu seterusnya. Saya yakin saya terlihat sangat lucu. Tapi kemudian saya berhasil menghafal bacaan-bacaan salat dalam bahasa Arab begitu," cerita Aysha.
Aysha lalu membuka akun di Facebook. Di situs jejaring sosial itu, Aysha mendapat banyak teman baru dan banyak saudara sesama muslimah. Dari sahabat-sahabatnya di internet, Aysha mendapatkan banyak perhatian dan dukungan. Seorang laki-laki muslim melamarnya, dari lelaki itu Aysha mendapatkan jilbab pertamanya, sajadah dan buku-buku Islam. Ia juga mendapatkan Al-Quran pertamanya dalam bahasa Arab yang dikirim dari Yordania karena ia sulit mendapatkan Al-Quran di Hungaria. Sekarang, sudah lebih dari setahun Aysha memakai jilbab.
Aysha mengalami periode yang sangat buruk dengan ibunya. Ibu Aysha selalu mengatakan bahwa Aysha akan menjadi teroris, bahwa Aysha akan meninggalkan ibunya seperti Aysha meninggalkan agama Katolik yang dianutnya dan bahwa Aysha juga akan meninggalkan Hungaria, negara kelahirannya.Ibu Aysha menaruh semua makanan yang mengandung daging babi di dalam lemari es dan tentu saja Aysha menolak untuk memakannya. Hal seperti itu kadang memicu pertengkaran besar antara Aysha dan ibunya.
"Ibu tidak senang melihat saya salat dan berjilbab. Saya selalu salat di dalam kamar agar ibu tidak melihat aku salat dan mengenakan jilbab. Ibu selalu berkata,'Aku melahirkan seorang anak Kristen, bukan seorang Muslim yang berjilbab'," kisah Aysha menirukan ucapan ibunya.
"Jadi, kami punya masalah serius, tapi saya tidak pernah kasar pada Ibu. Alhamdulilah, ibu sudah tenang sekarang dan tampaknya ia menerima keislaman saya. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah untuk itu. Sekarang saya keluar rumah dengan berjilbab, dan ibu tidak mengatakan apa-apa," ungkap Aysha.
Hubungan Aysha dengan sang ayah, yang sejak lama dingin dan tidak saling bertegur sapa, juga membaik setelah Aysha memeluk Islam. Aysha mencoba membuka kembali komunikasi dengan ayahnya, dan kini ayah Aysha mulai mengunjunginya secara teratur.
"Ya, hidup saya adalah ujian besar tapi saya bersyukur pada Tuhan karena memiliki kesabaran dan harapan. Pada hari kiamat saya akan sangat bersyukur atas semua itu. Jadi aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik, dan belajar lebih banyak dan lebih banyak untuk memahami agama saya," ujar Aysha.
Ia melanjutkan, "Saya percaya semuanya sudah ditakdirkan, jadi apa pun yang Allah katakan akan terjadi kepada saya, tidak bisa berubah, tapi saya dapat memilih untuk menjalani hidup dengan baik."
"Saya sedang membantu sesama di Debrecen. Saya membuat proyek mengumpulkan pakaian bekas untuk kamp pengungsi.. Ada banyak Muslim di sana yang tidak punya rumah karena perang. Jadi kami mengumpulkan pakaian, kami pergi ke sana dan saya membuatkan roti Pakistan untuk anak-anak dan perempuan, mereka sangat bahagia dan sangat menyenangkan bisa bertemu mereka," papar Aysha.
Ia juga mencoba memberikan bimbingan pada para pengungsi yang ingin masuk Islam atau baru saja masuk Islam. Di kamp pengungsi Aysha bertemu dengan dua muslimah Hungaria yang baru masuk Islam. Pada mereka, Aysha memberikan buku-buku, sajadah dan Al-Quran. "Alhamdulillah. Kami salat bersama dan mereka benar-benar bahagia," kata Aysha haru.
Aysha menyatakan bahwa ia selalu berusaha memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang ramah dan memiliki hati yang penuh kasih sayang. Dulu, Aisyah akan bersuara keras jika ada seseorang melontarkan pernyataan yang membuatnya merasa terganggu. Tapi sekarang, Aysha selalu memberikan contoh yang baik sebagai seorang muslimah, kemanapun ia pergi. Aysha, meski baru masuk Islam satu setengah tahun yang lalu, kini sudah menunaikan salat lima waktu dengan rutin, banyak membaca buku Islam dan Al-Quran, berusaha mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah dan sekarang sedang belajar bahasa Arab. (ln/iol)
Monday, March 08, 2010
Umar Al-Bashir: Hukum Islam akan Tetap Dipertahankan di Sudan
Presiden Sudan Umar al-Bashir, dan pemimpin Partai Kongres Nasional (NCP) telah menegaskan komitmennya saat ini untuk mempertahankan peraturan yang berdasarkan perundang-undangan Islam di negara tersebut dan menolak seruan agar Sudan menjadi negara sekuler.
Presiden incumben Umar Al-Bashir menyatakan hal tersebut dalam kampanye untuk pemilihan dirinya kembali - ia berbicara didepan para ulama dan pemimpin dari anggota persaudaraan Islam di Khartoum hari Sabtu yang lalu (6/3).
Masalah hukum Syari'ah diangkat sebagai tema kampanye Umar Al-Bashir yang akan melawan calon dari SPLM, Yasir Arman yang menyatakan akan membatalkan hukum Islam di Sudan dalam rangka menjaga persatuan Sudan.
Penasehat presiden Shalah Ghas pada Sabtu lalu dalam sebuah pidato di Al Suki sebelah utara Sudan, dalam pidatonya tersebut ia menyerang partai-partai oposisi yang mengatakan bahwa mereka setuju di Juba bahwa hukum Islam akan dihapuskan disana. Dirinya juga menuduh, kelompok oposisi Sudan menggunakan ajang pemilu untuk mengkampanyekan sebuah negara sekuler baru.
Partai NCP yang berkoalisi dengan presiden Sudan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap hukum-hukum Islam dan pemberdayaan agama Islam di negara itu. Mereka mencela atas usul beberapa partai politik yang menyerukan pembentukan negara sekuler dan penghapusan undang-undang Islam.
Bashir lebih lanjut meminta para ulama, da'i dan pemimpin dari persaudaraan sufi untuk mempertahankan bangsa dan agama Islam di Sudan dengan menyebarkan prinsip-prinsip Islam dan ajarannya di kalangan umat Islam.
Baru-baru ini Yasir Arman dari SPLM membantah tuduhan dari partai NCP yang menyatakan bahwa dirinya menyerukan untuk membuka bar dan rumah-rumah pelacuran, ia juga mengatakan bahwa partai yang berkuasa di Sudan telah menggunakan agama untuk kepentingan politik, namun mereka sendiri tidak menerapkannya. (fq/iina)
Thursday, March 04, 2010
Amuk cuaca
Oleh Rohaniza Idris
Kejadian El Nino Modoki celarukan cuaca dunia, penyebab bencana alam
KALI pertama masyarakat Malaysia mendengar perkataan El Nino kira-kira 14 tahun lalu, iaitu ketika El Nino yang disifatkan paling teruk melanda negara dan rantau ini. Ia menyebabkan jerebu, kemarau dan kepanasan melampau dengan suhu meningkat melebihi 40 darjah Celsius.
Ketika itu, ramai yang ketawa dan mempersendakan namanya biarpun ia jelas mencetuskan kebimbangan pihak terutama saintis, pakar kaji cuaca dan alam sekitar dunia. Kali ini El Nino muncul lagi. Amukannya menyebabkan cuaca dunia tidak menentu dan tempoh yang sepatutnya disifatkan stabil sebaliknya terus dilingkari keadaan kemarau, banjir dan ribut salji.
Lebih membimbangkan, menurut pakar kaji cuaca, El Nino akan terus bertambah buruk bagi tahun-tahun mendatang. Fenomena El Nino yang muncul setiap dua hingga tujuh tahun di selatan Pasifik, menunjukkan tanda-tanda cuaca dunia sudah semakin celaru. Apa tidaknya, kesannya boleh dilihat menerusi kejadian bencana alam di seluruh dunia, merosakkan tanaman bagi dua tahun berturut-turut dan menimbulkan kekecohan dalam pasaran komoditi dunia.
Menurut pakar kaji cuaca dunia, tahun 1997-1998, adalah El Nino terburuk dicatatkan dalam tempoh 150 tahun. Malah kejadian El Nino pada 1998 menyebabkan kerugian melebihi RM15 bilion di seluruh dunia dengan Malaysia saja mencatat kerugian hampir RM1 bilion.
Sebelum peristiwa 1997-98, El Nino yang paling teruk dicatatkan pada 1982-83, dalam tempoh 100 tahun, membawa bersamanya cuaca buruk yang mendatangkan kerosakan di 15 negara, dianggarkan kerugian pada AS$13 bilion (RM37.7 bilion) dan membunuh 2,000 orang.
| KEADAAN cuaca panas pada awal pagi di Lebuhraya Persekutuan di ibu negara, Isnin lalu. |
Tahun ini, fenomena yang sama kembali berulang, namun saintis menjangkakan kali ini tidak seteruk 1997-98 kerana ia dikategorikan sebagai El Nino Modoki, iaitu kategori sederhana.
Ketua Seksyen Analisis Cuaca, Pusat Penyelidikan Atmosfera di Boulder, Colorado, Amerika Syarikat, Dr Kevin E Trenberth berkata, fenomena El Nino kali ini tidak seburuk 1997-98 tetapi hampir menyamai fenomena pada 1982-83.
"Itu sebab di sesetengah negara seperti Australia, ada kawasan yang hujan lebat dengan ribut yang boleh membawa banjir dan sebahagiannya pula kering, begitu juga beberapa kawasan di Tahiti dan Amerika Selatan yang mengalami ribut dan banjir," katanya.
Pakar kaji cuaca tempatan, Profesor Dr Fredolin Tangang yang juga Profesor dan Ketua Pusat Penyelidikan Sistem Perubahan Iklim Tropika, UKM, berkata El Nino yang dialami sekarang disebabkan kehadiran El Nino yang bermula sejak Jun tahun lalu. Ia kini ia berada di fasa puncak dan mula menurun yang diramal berakhir April nanti. Namun, El Nino kali ini boleh dikatakan dalam kategori lemah atau sederhana.
| KEBAKARAN hutan di Seri Gombak merebak hingga menghampiri kawasan perumahan. |
Beliau yang juga Naib Pengerusi Kumpulan Kerja 1, Panel Perubahan Iklim Antara Kerajaan (IPCC), Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) berkata, corak peningkatan suhu di lautan pasifik ini mengkategorikan El Nino kali ini kepada jenis 'El Nino Modoki'. 'Modoki' adalah perkataan Jepun yang bermaksud serupa tetapi berbeza. El Nino jenis biasa menunjukkan peningkatan suhu permukaan laut maksimum di bahagian timur Lautan Pasifik dan bukan di bahagian tengah.
"Apabila El Nino Modoki berlaku kesannya lebih dirasai di Semenanjung berbanding Sabah dan Sarawak pada musim puncak iaitu Januari hingga April. El Nino 'biasa' membawa impak yang lebih kuat di Sabah dan Sarawak pada musim ini berbanding Semenanjung," katanya.
Selain Malaysia, kesan yang sama atau lebih teruk dirasai di negara lain sama ada di rantau ini dan benua lain di lautan Pasifik. Di Filipina, El Nino memberi kesan kepada 100,000 petani di wilayah utara, tengah dan selatan Mindanao yang terbabit dengan industri tanaman padi dan jagung di negara berkenaan.
Jabatan Pertanian negara itu, menganggarkan tanah seluas 4,643 hektar untuk sawah padi dan 8,900 hektar jagung terjejas teruk akibat cuaca panas dan musim kemarau kesan El Nino. Kerajaan itu menjangkakan pengeluaran beras menurun kepada 800,000 tan apabila musim tuaian untuk suku pertama tahun ini menurun sebanyak 1.7 peratus berbanding tahun lalu dengan 7.25 juta tan.
Di Indonesia pula dijangkakan lebih banyak kebakaran hutan akan berlaku selain meningkatkan aktiviti pembakaran terbuka selepas musim menuai berakhir bulan depan.
Awal bulan ini, kira-kira 50 negeri di Amerika Syarikat terus diliputi salji walaupun sepatutnya musim sejuk sudah pun berada di penghujungnya. Seorang penyelidik Universiti Oklahoma, berkata kejadian semua negeri Amerika dilanda salji pada masa ini sememangnya pelik. Ini kerana kebiasaannya, awal Februari hanya 40 atau 50 peratus wilayah negara itu yang bersalji.
Di China, cuaca sejuk dan salji tebal berlaku di tengah dan timur negara berkenaan awal tahun ini. Keadaan cuaca melampau terburuk sejak 16 tahun lalu, menyebabkan kerugian ekonomi berjumlah 311 juta yuan (RM140.5 juta) di wilayah tengah Hubei dan Hunan.
Apakah El Nino boleh dikesan jauh lebih awal? Laporan Penilaian Perubahan Iklim Keempat Panel Perubahan Iklim Antara Kerajaan (IPCC) yang diterbitkan pada 2007, misalnya menyatakan pemanasan global boleh menjadikan fenomena El Nino lebih kerap dan kuat di dekad mendatang dan juga ada kemungkinan sistem interaksi atmosfera-lautan di Lautan Pasifik `terkunci' kepada keadaan El Nino.
Pakar kaji cuaca dunia percaya amaran awal fenomena cuaca boleh dikeluarkan 14 bulan sebelum El Nino melanda negara di sekitar lautan Pasifik dan memberi kesan kepada cuaca di benua Afrika dan Eropah.
Pada masa ini, saintis hanya mengeluarkan amaran fenomena berkenaan beberapa bulan sebagai persediaan kepada petani dan nelayan yang terkesan teruk daripada fenomena berkenaan.
Malah, ramalan atau jangkaan yang diberikan saintis atau pakar kaji cuaca sering tersasar sejak kebelakangan ini apabila tidak sama dengan keadaan sebenar fenomena berkenaan berlaku. Mereka percaya, perubahan cuaca global mempengaruhi fenomena El Nino dan keadaan cuaca yang lain.
Pakar Kaji Cuaca di Institut Penyelidikan Perubahan Global di Yokohama, Jepun, Takeshi Izumo percaya amaran kehadiran El Nino boleh dikesan lebih awal berdasarkan perubahan yang berlaku di Lautan Hindi.
Perubahan El Nino pertama kali dikenal pasti pada tahun 1999 dan ia dikesan berlaku setiap dua tahun sekali, malah, analisis rekod cuaca 1981 hingga 2009 mendapati bahawa ketika apa yang disebut Indian Ocean Dipole berada dalam fasa "negatif" iaitu dengan air panas di barat dan dingin di timur - maka peristiwa El Nino di Pasifik akan berlaku pada tahun berikutnya.
El Nino dan Malaysia
- El Nino yang dikawal oleh Lautan Pasifik. Walaupun Malaysia begitu jauh daripada lautan itu tetapi ia masih boleh memberi kesan kepada negara kerana Malaysia terletak di kawasan benua maritim di tengah, antara dua lautan besar iaitu Lautan Hindi dan Lautan Pasifik. Dalam keadaan normal, kawasan ini mempunyai tekanan udara rendah berbanding di bahagian timur dan tengah Lautan Pasifik.
- Kelembapan udara akan bertumpu ke kawasan ini dan ini merancakkan proses perolakan dan pembentukan awan. Bagaimanapun, apabila El Nino berlaku, pemanasan di bahagian tengah dan timur Lautan Pasifik menyebabkan tekanan di kawasan ini menjadi rendah berbanding di kawasan rantau benua maritim.
- Ini menyebabkan kelembapan akan bergerak ke bahagian tengah dan timur Lautan Pasifik menjadikan atmosfera di kawasan kita kering, stabil dan proses perolakan yang minimum. Imej satelit terkini menunjukkan kawasan di rantau benua maritim termasuk Malaysia kurang berawan berbanding di bahagian tengah Lautan Pasifik.
- El Nino adalah fenomena semula jadi berskala besar akibat interaksi lautan dan atmosfera dan tiada teknologi yang boleh menghalang fenomena ini. Kekerapan ia berlaku adalah sekali dalam dua hingga tujuh tahun. Bagaimanapun kegiatan manusia terutama corak guna tanah boleh meningkatkan lagi impak fenomena ini.
- Kegiatan manusia juga menerusi pembebasan gas rumah hijau yang menyebabkan pemanasan global juga boleh mempengaruhi corak dan kelakuan El Nino.
- Menurut Laporan Penilaian Perubahan Iklim Keempat Panel Perubahan Iklim Antara Kerajaan (IPCC) yang diterbitkan pada 2007, pemanasan global boleh menjadikan fenomena El Nino lebih kerap dan kuat di dekad mendatang dan juga ada kemungkinan sistem interaksi atmosfera-lautan di Lautan Pasifik menjadi `terkunci' kepada keadaan El Nino.
- Negara pernah mencatat suhu tertinggi 41.1 darjah Celsius di Chuping, Perlis pada 1998, sehingga menyebabkan kemarau panjang di sebahagian kawasan di negara ini. Namun, sejarah catatan suhu tertinggi itu masih kekal.
- Catatan cuaca kini yang paling tinggi ialah antara 34 hingga 36 darjah Celsius dan masih dianggap fenomena biasa setiap Februari hingga Mac, setiap tahun.
INFO: El Nino
- Dinamakan anak Jesus dalam bahasa Sepanyol (El Nino bermakna `The Boy' atau `The Child' (budak lelaki)) kerana ia mencapai puncak kuasanya sekitar perayaan Krismas.
- Nelayan ikan bilis Peru sudah arif benar dengan fenomena El Nino (Christ Child) kerana ia memuncak sekitar sambutan Krismas. Tangkapan mereka menurun kerana air laut sejuk di perairan Peru menyebabkan ikan bilis berpindah ke kawasan lain
Wednesday, March 03, 2010
AS Membunuh Pemimpin Muslim Uigur di Pakistan
Pesawat tanpa awak AS telah membunuh pemimpin Muslim Uighur di Pakistan. Serangan yang dilakukan pesawat tanpa awak telah membunuh pemimpin Muslim Uigur yang pro kemerdekaan di Pakistan. Terbunuhnya pemimpin Muslim Uigur itu dikonfirmasi oleh intelijen Pakistan dan Taliban, Senin kemarin.
Abdul Haq al-Turkistani, yang disebut sebagai pemimpin Partai Islam Turkistani (TIP), telah tewas akibat serangan udara AS yang menggunakan pesawat tanpa awak, di Utara Waziristan. Abdul Haq al-Turkkistani terbunuh bersama tiga orang lainnya, ucap seorang kepala intelijen Pakistan. Sementara itu, menurut intelijen Taliban, Turkistani terbunuh oleh serangan misil, yang dimuntahkan oleh pesawat tanpa awak.
Pemimpin Muslim Uigur, tahun lalu, masih terlihat dalam siarannya di video, yang mengecam tindakan pemerintah China, yang dia katakan katakan, sebagai 'pembantaian yang barbar".
Sejumlah pemimpin Muslim Uigur, berjuang dengan keras menolak dominasi suku Han, yang melakukan marginalisasi disegala sektor terhadap Muslim Uigur. Kelompok Han yang mayoritas di China itu, secara sistematis, menghancurkan hak hidup orang-orang Muslim Uighur, yang telah hidup di tanah kelahirannya selama ratusan tahun.
Kelompok Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) telah menuduh pemerintah China yang menggunakan isu 'teroris', dan tujuannya untuk melikwidasi kelompok Mulsim Uighur dari wilayah itu. Pemerintaha China juga menciptakan kekacauan disaat Muslim Uighur yang sedang berunjuk rasa untuk menuntut hak-hak mereka secara damai.
Kelompok suku Turkistan, yang jumlah mencapai 8 juta jiwa, yang disebut sebagai suku Uighur itu, berada di perbatasan Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kyrgystan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan dan India. Mereka berada di wilayah-wilayah yang memiliki cadangan gas dan minyak yang sangat luas.
Sementara itu, sebagian besar investor yang sudah masuk di wilayah itu berasal dari Pakistan, yang menginginkan gas dari wilayah Muslim Uighur. Hal ini terkait dengan usaha antara pemerintah Pakistan - China, yang sekarang membangun jalan yang menghubungkan antara wilayah Pakistan dengan China,yang melewati pegunungan sebelah Utara, dan banyak orang-orang China yang bekerja di Pakistan, dan jumlah mencapai ratusan ribu orang.
AS telah membunuhi tokoh-tokoh Islam, yang mereka mendapatkan julukan atau cap teroris oleh mereka. Diantara yang sudah tewas akibat serangan misil itu, Baitullah Mesud, Hakimullah Mesud, dan sekarang tokoh Muslim Uighur, Abdul Haq. (m/wb)
Larangan Masuk ke UEA Jadi Pukulan Teruk Bagi Pengusaha Israel
Larangan masuk ke wilayah Uni Emirat Arab bagi para pengusaha Israel telah menjadi pukulan teruk bagi ekonomi dan bisnis mereka. Ternyata para pengusaha Israel selama beberapa tahun terakhir sangat tergantung pada transaksi bisnis dengan pengusaha dari UEA. Mereka mengatakan bahwa mereka akan melakukan upaya untuk mencoba mengubah keputusan ini.
Sebelumnya UEA telah memutuskan untuk memberlakukan larangan masuk bagi warga Israel ke wilayah mereka, apapun kewarganegaraannya.
Letnan Jendral Dahi Khalfan Tamim kepala kepolisian Dubai dalam sebuah konferensi keamanan yang di adakan di Abu Dhabi UEA mengatakan: "Keputusan untuk melarang orang-orang Yahudi masuk ke UEA juga berlaku bagi yahudi yang memiliki kewarganegaraan lain yang bukan Israel."
Langkah ini diambil dalam upaya UEA mengontrol masuknya orang-orang yang akan melakukan tindakan kejahatan di UEA, setelah adanya insiden pembunuhan terhadap salah seorang petinggi Hamas Mahmud Mabhuh di Dubai oleh agen-agen Mossad yang dalam aksinya menggunakan paspor Eropa.
Di sisi lain, terungkap bahwa pengusaha Israel sering mengunjungi Dubai selama bertahun-tahun, dan beberapa dari merka memegang paspor asing, sementara warga Israel yang lain memasuki Dubai dengan paspor Israel mereka dan mereka menjalin hubungan dekat dengan para pengusaha dari UEA.
Patut dicatat bahwa perdagangan antara Israel dan UEA berkembang dengan cara-cara langsung maupun tidak langsung, dengan perkiraan nilai perdagangan langsung sekitar puluhan juta dolar per tahun, sedangkan untuk perkiraan perdagangan tidak langsung, berkisar sekitar ratusan juta dolar. (fq/imo)
Subscribe to:
Posts (Atom)

